Let's STOP Hate Speech, Dear!


Akhir-akhir ini, ada sesuatu yang menjadi viral disebabkan oleh perilaku tak menyenangkan dari pengguna internet. Satu lagi korban, kekejaman publik yang dengan sembarangnya melontarkan kata-kata yang berdampak pada objeknya. Tidakkah mereka sadar dengan perilakunya dapat menyebabkan seseorang kehilangan nyawa?




10 Oktober 2019, diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia (World Mental Health Day) yang pada tahun ini mengambil fokus utama, yaitu pencegahan bunuh diri. Sungguh disayangkan, sebuah kejadian menggemparkan dunia terjadi beberapa hari setelahnya. Kematian seorang aktris dan mantan member girlband Korea dikarenakan bunuh diri. Ketika dilihat ke belakang, memang beliau menderita depresi sejak kecil, panic disorder dan social phobia (social anxiety), yang membuat penderitanya merasa terus diawasi, sehingga mereka takut dihina, dihakimi dan ditolak, namun seolah publik menghiraukannya karena sang korban masih dengan senang hati memamerkan senyum indahnya seperti tidak terjadi apa-apa. Meskipun pernah suatu saat, sang korban memperlihatkan tanda bahwa dia sedang tidak baik-baik saja, tetap saja, banyak komentar negatif dari warga internet.

“Aku bukan orang jahat, tolong beritahu aku apa yang harus aku lakukan hingga aku diperlakukan seperti ini!” Sayangnya tidak ada yang memedulikan kalimat itu. Meski para penggemarnya terus memberikan semangat, tapi tidak semudah itu berpengaruh padanya, karena lebih banyak yang berperilaku sebaliknya. Orang seperti beliau butuh banyak dukungan yang bisa mengubah pandangannya dan itu tidak mudah, melihat dia bekerja dalam bidang yang menjadi sasaran empuk jari-jari orang di luar sana.

Bahaya berkomentar negatif.

Pembunuh bayaran, menggunakan pisau yang tajam, potong nadinya untuk menghilangkan nyawanya dalam sekejap, tapi pembunuh profesional, cukup menggunakan lidah / jari-jarinya, patahkan semangatnya, jatuhkan mentalnya, hilangkan rasa percaya dirinya, maka sang korban akan mati dengan sendirinya. Cukup mudah, namun dosa pun sangat mudah didapatkannya.

Tidak ada rumus pasti untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kata-katamu terhadap orang lain. Bayangkan saja, saat seseorang yang berkomentar di postinganmu, memberikan kritikan tajam namun diakhiri dengan senyuman, masih bisa kok mengiris hati korbannya, bagaimana dengan komentar negatif, mengujar kebencian tanpa menggunakan senyuman / emoji? Teman yang menyinggung dengan alih-alih bercanda pun kadang masih membuat kita merasa sakit hati, bagaimana dengan yang terang-terangan menggunakan bahasa kasar? Tidakkah itu berpengaruh bagi kita yang normal, apalagi mereka yang sedang depresi?

“Mulutmu, Harimaumu!”
sebuah slogan yang menjelaskan bahwa mulut seseorang bisa menjadi yang paling mematikan, bergantung bagaimana mengendalikannya. Jika memang kamu benci atau ingin mengkritik, silakan! Tapi, dengan cara yang baik, cara yang sopan, tidak dengan menghina apalagi nyinyir A, B, C, dan sebagainya. Mau membandingkan seorang X dan Y, silakan! Bisa dengan cara menasehatinya bukan dengan cara memberikan tekanan seolah dia yang paling buruk. Sadarkah kalian, dengan kekejaman yang ditinggalkan meski dalam user 'anonim' akan memberikan dampak bagi kalian sendiri. Mungkin bukan sekarang, itu bergantung dari bagaimana Sang Pencipta merencanakannya.

Ada yang berceletuk, “Ya, memang karena di sana, pengguna internetnya banyak yang seperti itu!”  Kemudian mari kita berkaca, di negara kita, apakah masih dapat dikatakan aman, damai, dan sentosa? Tidak juga, banyak kok, pengguna internet yang seperti 'mereka' juga berkeliaran di sini. Jangan seolah-olah kita abai dengan kejadian di negara kita.

Senangkah mereka dengan melontarkan kata-kata seperti itu? Apakah ada kepuasan tersendiri bagi mereka yang merasa di-notice oleh sang korban? Bukankah malah bisa jadi merekalah yang punya gangguan mental?

Kesehatan mental bisa jadi akibat, bahkan sebab dari munculnya sebuah komentar negatif.

Kesehatan mental sangat penting untuk disadari, sama pentingnya dengan kesehatan fisik yang sering kita keluhkan hampir setiap hari. Gangguan mental adalah hal yang nyata dan harus diobati, bukan semata-mata karena terlalu sensitif, baper-an, atau kurang ibadah, tapi dapat terjadi karena trauma, lingkungan, masa lalu, kelainan genetik/hormonal, atau yang lainnya. Sebelum gejalanya semakin parah, kita bisa berobat ke dokter ahli kejiwaan/psikiater atau psikolog. Jangan takut dan malu untuk menghubungi mereka, sudah kewajiban mereka mengobati orang yang mempunyai gangguan mental. Sayangnya, masih banyak pandangan orang tua yang menyamakan gangguan mental dengan orang gila, sehingga yang terjadi malah mereka mengabaikannya karena tak ingin disebut 'orang gila'. Sudah saatnya kita ubah pandangan itu.

Setiap orang bisa terlihat baik-baik saja padahal sebenarnya mereka sedang depresi. Depresi tidak mudah dihilangkan, tidak semudah dengan berpikir positif atau jalan-jalan di tempat hiburan saja. Mereka perlu lebih perhatian. Kadang mereka mencoba mencari perhatian, bukan untuk dibilang lebay atau drama, tapi real, mereka butuh perhatian. Jangan dijauhi atau malah dicaci maki, coba kalian dengarkan keluhannya, agar mereka tahu kalau mereka tidak sendirian.

Sekarang, mari kita lebih peka dengan sekitar, bisa saja orang-orang di sekitar kita butuh bantuan, meski terkadang orang yang menderita pun tidak sadar dengan hal itu. Mari perhatikan kata-kata yang kita lontarkan kepada orang lain. Saya selalu ingat perkataan salah satu dosen saya, “Pikirkan dulu, sebelum kalimat itu kamu ucapkan, periksa dulu benar atau salahnya.” Kalau memang benar dan tidak akan memperburuk keadaan maka keluarkanlah, tapi kalau sebaliknya, lebih baik diam. Bicaralah dengan sebuah kebenaran, jangan terlalu cepat menilai atau mengomentari sesuatu yang bahkan tidak diketahui nilai kebenarannya. Posisikan diri kita sebagai penerima terlebih dahulu sebelum kita mengirimkan berbagai jenis komentar kepada mereka yang akan menerimanya.

Lalu bayangkan scenarionya, seseorang yang mengalami depresi sejak kecil, setiap melakukan sesuatu selalu saja ada ribuan komentar negatif mengelilinginya, sudah pasti depresinya semakin akut dan sangat memungkinkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi jika sudah dalam kondisi tertekan batin.

“Berarti kamu membela tindakan bunuh dirinya?” Poinnya bukan di situ. Mengenai proses bagaimana dia memilih jalannya, bukan hak saya untuk menilai, masih ada Yang Maha Mengetahui. Mari kita lihat dari sisi kemanusiaan yang kita miliki, agar tidak terjadi hal yang sama dimanapun. Jangan biarkan kalimat 'SUDAH TERLAMBAT' merajalela, tapi kita ubah dengan 'JANGAN TERLAMBAT' menolong siapa saja yang seharusnya butuh pertolongan, karena kamu bisa menjadi penyelamat bagi mereka yang membutuhkan.

Dikutip dalam sebuah sya’ir : 
Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya. Tanganku kan lenyap, namun tulisan tanganku kan abadi. Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal. Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan

p.s : Terlepas dari benar atau tidaknya 'komentar negatif' yang menjadi alasan kematiannya (bukan wewenang saya), tapi tetap perlu adanya 'red alert' untuk para pengguna internet agar lebih bijak menggunakan jari-jarinya. Rest in Peace 🙏



Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

Semoga bisa bermanfaat, kalau ada yang ingin teman-teman tanyakan silakan sampaikan pada kotak komentar yang ada dibawah atau bisa juga melalui halaman contact blog ini. Terima kasih, selamat berkunjung kembali.

Belum ada Komentar untuk "Let's STOP Hate Speech, Dear!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel