Saturday, October 20, 2018

Buntu Kabobong Gunung Nona Enrekang (Cerita Rakyat SulSel)

Buntu Kabobong Gunung Nona Enrekang (Cerita Rakyat SulSel)

Buntu Kabobong atau Gunung Nona adalah gunung yang terletak di Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang yang memiliki bentuk unik dan eksotis. Cerita gunung nona ini diawali dari sebuah kerajaan di kabupaten Soppeng yang masyarakatnya makmur dan sejahtera dibawa pimpinan raja yang amat bijak.

Raja ini memiliki putri tunggal yang cantik jelita. Kehidupan sang raja terbina dengan baik dan terkenal erat adat istiadat di tanah Soppeng. Setelah dewasa sang putri akan dinikahkan dengan pangeran dari Tanah Suppa tempatnya di kerajaan Suppa, pangeran ini adalah anak sahabat dari raja Soppeng. Ia adalah satu satunya pewarisan tahta kerajaan.

Kedua arang tua mereka sepakat untuk menikahkan anak-anaknya apalagi pada saat itu, aturan yang berlaku untuk pernikahan adalah aturan orang tua. Rencana ini ternyata tidak di ketahui oleh sang putri raja Soppeng. Kedua orang tua mereka berkeinginan untuk melangsungkan pernikahan yang lebih cepat.

Rencana pernikahan ini semakin dekat berita pernikahan putra raja Soppeng dengan pangeran raja Suppa telah tersiar di masyarakat. Pesta akan direncanakan akan berlangsung selama tujuh hari tuhuh malam dengan berbagai jenis makanan, berbagai macam hiburan rakyat. Sementara, perasaan sang putri semakin meronta-ronta.

Satu hari sebelum pesta di langsungkan diadakan malam mapacci untuk sang putri. Setelah proses mappacci pada malam itu seisi istana sangat kelelehan sehingga mereka tertidur lelep. Keadaan ini dimamfaatkan sang putri. Ia tak sanggup menjalankan proses pernikahan sehingga ia memutuskan untuk pergi dengan bantuan pelayannya, ia melarikan diri melalui jendela tepat sebelum ayam berkokok. Rencananya ia akan lari kearah utara Soppeng.

Pagi pun tiba, iring-iringan dari kerajaan Suppa. Puluhan kuda, kerbau, dan bermacam-macam lainnya mengiringi Pangeran Raja Suppa menuju Tanah Soppeng.

Berita paginya sang putri meninggalkan istana telah tersebar kemana-mana. Raja Soppeng merasa malu dan harga dirinya terinjak-injak. Apalagi penyebabnya adalah darah dagingnya sendiri. Ia berjanji tidak akan memaafkan anaknya bahkan akan membunuh karena telah dianggap mencoreng nama kerajaan. Sang raja akhirnya memanggil semua tokoh dukun dan prajurit kerajaan. Mereka ditugaskan untuk mencari sang putri melalui empat penjuru mata angin.

Prajurit yang mencari dari arah utara menemukan sang putri tetapi sang putri tidak sendirian. Ia bersama seorang laki-laki dari Tanah Massendrempulu’ yang bernama Tandu Mataranna Endrekang laki barakkanna puang. Lelaki ini menyatakan kepada prajurit bahwa tidak ada yang dapat menyentuh sang putri jika ia masih hidup. Melihat lelaki badan yang besar membuat prajurit mundur.

Keadaan ini disampaikan kepada sang raja, raja mengutus penghulu bersama prajurit dari Tanah Soppeng. Penghulu di utus sebagai penengah antara prajurit dan lelaki dari Tanah Massendrempulu.

Setelah melalui perundingan panjang, penghulu berhasil membuat kesepakatan. Sang putri akan di bawa ke Soppeng tetapi prajurit berjanji akan mengembalikan putri dalam keadaan bernyawa. Namun dari salah satu prajurit ingkar janji. Ia menembus badan putri dari belakang, saat penghulu dan Tanduk Mataranna berunding. Sekejap, Tandu Mataranna menjadi marah dan membabi buta semua prajurit yang ada di tempat itu.

Sementara badan sang puteri terbagi dua. Bagian pusar hingga kepala jatuh dan terbawa arus sungai mata allo. Konon, arus sungai ini tidak melewati Soppeng karena merupakan tempat kelahiran sang putri. Sedangkan bagian bawah inilah yang menjadi gunung nona di Anggeraja.

Motos di masyarakat setempat menjadikan gunung nona dan Gunung Bambapuang sebagai tempat pertapaan bagi pasangan yang akan menikah. Laki-laki bertapa selama tujuh hari tujuh malam di gunung Bambapuang dan perempuan di gunung Nona. Konon, pasangan ini akan memperoleh petunjuk tentang pinangan mereka masing-masing.

Next

Next
This Is The Current Newest Page

Related