Thursday, March 30, 2017

Bicara Cinta

Desa Mattiro Tasi, Kecamatan Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang

Kalau berbicara soal cinta banyak orang yang tiba-tiba merasa bahagia, sedih, ketawa, menangis, bahkan sampai lompat-lompat dan guling-guling sendiri, itu baru bicara, belum yang lain.

Bicara soal cinta, artinya bicara soal manusia, iya, karena cuma manusia yang jatuh cinta. Walaupun pada dasarnya, manusia, hewan dan tumbuhan sama-sama mahluk hidup dan sama-sama berkembang biak (bedanya, manusia punya spesies jomblo), namun hewan dan tumbuhan melakukan itu bukan karena cinta, tapi karena insting, kalau tidak percaya perhatikan saja, apa ada yang pernah lihat ayam sedang tulis-tulis surat cinta untuk ayam tetangga atau tiba-tiba kucing tetangga datang melamar kucing betina dirumah? Mulai absurd lah tulisan ini.

Bicara soal cinta, banyak yang berpikir, bicara soal sepasang kekasih, kisah dramatis yang membuat takzim, pengorbanan yang menakjubkan, bicara soal urusan perasaan dua insan manusia. Memang benar, itu cinta, tapi sejatinya cinta tidak hanya melulu tentang itu-itu saja. Hakikat cinta terlalu sempit kalau cuma tentang itu. Mencintai memang urusan yang sederhana, tetapi cinta tidak sesederhana itu.

Coba perhatikan dalam hidup kalian, apakah ada orang yang tidak ingin kalian menderita? Tidak ingin kehilangan kalian? Bahkan melakukan apapun demi kalian? Ketahuilah siapapun yang tidak ingin kehilangan kalian, menjaga, melindungi, dan melakukan banyak hal demi kalian. Tanpa batasan waktu, sungguh itulah cinta, terlepas dari siapa dan bagaimanapun dia, salah satunya pasti mereka adalah orang tua.

***

Perkenalkan, saya biasa dipanggil Hadi. Saya terlahir pada era kepemimpinan bapak Soeharto dan bapak Try Sutrisno, empat tahun sebelum akhir abad ke-20. Saya sangat senang bergelut dengan berbagai hal seperti, sastra, photography, IT dan yang paling sering adalah yang berhubungan dengan seluk-beluk pendidikan saya saat ini yaitu matematika, menurut saya matematika merupakan suatu bidang ilmu yang membuat nyata berbagai hal-hal abstrak, sangat menyenangkan saat bisa mengandalkan logika berpikir dan membangun argumen-argumen dasar untuk menanggapi suatu permasalahan, kurang lebih seperti itulah matematika untuk saya.

Alhamdulillah tidak terasa sudah hampir genap tiga tahun saya menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar, rasanya baru kemarin pusing memikirkan akan mendaftar di mana dan diterima di mana, setiap malam mengerjakan soal-soal SBMPTN dan bertemu dengan tentor-tentor bimbel dan kemudian ehh sekarang sudah sering-sering pake almamater kampus, sudah tidak upacara bendera lagi saat hari senin. You grow up so fast. Tetapi meskipun begitu, banyak yang saya rindukan dari masa-masa sekolah dulu, suasana kelas saat jam pelajaran kosong, atau saat kegiatan berorganisasi yang membuat saya menyambangi berbagai tempat-tempat hebat. Terkadang saya teringat saat-saat berkumpul bersama dengan teman sekolah dulu, entah untuk belajar atau untuk sekadar makan, terlebih saat-saat sulit yang telah saya lewati, yang telah memberi banyak pelajaran berharga bagi saya saat ini.

Meskipun saat itu banyak hal-hal menyimpang yang saya lakukan dan keliru dalam berbagai hal, namun saya bersyukur dengan baik-buruk hal yang saya alami itu, karena sesungguhnya setiap hal yang terjadi pada diri kita tidak mempunyai nilai baik-buruk sebelum kita menilainya dengan penilaian manusiawi kita masing-masing.

Satu hal pula rasa rindu yang amat sulit untuk saya lupakan, masa ketika saya masih kanak-kanak. Berbicara tentang masa kanak-kanak, sebagai orang yang pernah kecil, saya menghabiskan masa kecil di beberapa tempat dengan orang-orang yang memiliki kebudayaan berbeda. Di tempat dengan orang-orang yang bersejarah, paling tidak bersejarah bagi diri saya. Saya terlahir di ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, Ujung Pandang, begitulah namanya sejak 1950-an hingga awal abad ke-21, setelah itu sampai saat ini orang-orang menyebutnya Kota Makassar. Terlahir dari ayah kandung yang berkampung halaman Kabupaten Sinjai dan ibu yang berasal dari tanah Mandar saya kemudian diberi nama Muhammad Hadi Purnomo, nama yang membuat beberapa orang berpikir bahwa saya adalah keturunan suku Jawa.

Sekitar usia balita saya kemudian dibawa ke tanah Mandar oleh ibu saya, kurang lebih pada masa itu ayah dan ibu saya bercerai dengan alasan yang belum dapat saya pahami dan belum pernah saya tanyakan pada usia yang masih dihitung jari kala itu. Tepatnya di Napo, Limboro, Polewali Mandar, saat itu hingga 2004 masih menjadi bagian dari Sulawesi Selatan, saya menghabiskan kurang lebih tiga bulan di kampung kecil itu, kampung sederhana yang berada di kaki bukit, belajar hidup lebih mandiri tanpa orang tua, tiga bulan saya hidup bersama sanak keluarga ibu saya, tiga bulan yang membuat saya lebih fasih berbahasa Mandar ketimbang ibu saya yang asli orang Mandar.

Selepas masa itu, tahun 1999, selain menjadi highlight penyelenggaraan pemilu pertama di Indonesia, tahun 1999 juga menjadi tonggak sejarah dalam hidup saya. Pada tahun tersebut ibu saya resmi diangkat menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil tenaga pengajar (PNS) di Kabupaten Pinrang dan saya pun resmi pindah dari tanah Mandar ke tanah Tau Ugi (orang Bugis). Pindah dari Mandar ke Bugis, sebuah proses peralihan yang tidak mudah bagi anak kecil seperti saya waktu itu. Pertama kali mendengar bahasa Bugis saya merasa bingung dengan dengan berbagai kata yang mirip dengan bahasa Mandar, bahasa yang telah saya ketahui lebih dulu. Hal itu membuat saya nampak amat berbeda di lingkungan saya, membuat saya selalu menerka-nerka apa yang orang-orang katakan. Tetapi tidak memerlukan waktu yang lama saya mulai dapat berbicara dengan bahasa Bugis, tidak memerlukan waktu yang lama pula untuk membuat saya sama sekali tidak dapat lagi berbahasa Mandar sampai sekarang.

Desa Mattiro Tasi, Pinrang, menjadi saksi masa kanak-kanak hingga masa remaja saya, dibesarkan oleh ibu bersama ayah tiri yang amat penyayang, orang yang telah menjelma sebagai ayah yang sesungguhnya bagi saya, ayah terhebat dalam 3 milenium terakhir. Ayah adalah orang yang tangannya kreatif, membuat saya menjadi orang yang selalu mencoba belajar darinya. Perlahan saya kemudian memahami tentang budaya bugis, mereka mengajarkan saya untuk menghargai kehidupan sekecil apapun itu, serta mendidik saya untuk memahami makna adat peninggalan orang Bugis, serta mengajarkan menjaga yang saat ini masih ada. Tumbuh di daerah pedalaman tidak menjadikan saya orang yang gaptek, berbekal kemauan dan sebuah mesin komputer sederhana dari hasil menabung membuat saya tertarik dan terobsesi untuk belajar banyak hal dari teknologi buatan manusia itu.

Berbekal inisiatif dan niat belajar saya membuat posting bicara cinta ini saya persembahkan kepada to matoakku malebbie, Suadi & Hapidah, serta untuk teman-teman sekelas saya di prodi Matematika angkatan 2014 yang menamakan diri mereka Gamma14 bahkan untuk semua cinta yang pernah membuat saya takzim, pengorbanan yang menakjubkan, yang telah memberikan banyak cinta untuk saya. Teruntuk nyonya perindu yang mengajarkan saya tentang betapa berat dan hebatnya kesetiaan, tak terbeli namun amat mahal harganya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang murahan, terima kasih untuk banyak cerita yang bahkan terlalu banyak untuk diceritakan.

Prodi Matematika FMIPA UNM 2014

Terima kasih, itulah kata ungkapan bangga dari saya serta itulah beberapa hal tentang saya, terlalu panjang untuk disebut "beberapa kata", semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, terlebih bermanfaat bagi yang menulisnya. Sampai jumpa.

Next

Related