Latest Post

Blogger

Photoshop

Education

Wednesday, February 13, 2019

Aljabar Elementer: Fungsi Rasional



Selamat datang teman-teman, terima kasih telah berkunjung di blog saya. Dalam posting kali ini saya akan membagikan salah satu tugas kuliah saya, yaitu mengenai Aljabar Elementer: Fungsi Rasional.

Apa itu Fungsi Rasional?? 

Jika dilihat, dibaca, dan didengar dari kalimatnya, maka yang terlintas pertama kali adalah Matematika. Yup, Matematika sangat akrab dengan kalimat Fungsi Rasional.

Dalam Matematika, pengertian fungsi rasional adalah fungsi yang memetakan suatu bilangan real x ke bilangan rasional \frac{g(x)}{h(x)}, dimana g(x) dan h(x) adalah polinom-polinom dan h(x) tidak sama dengan nol.

Ketika mahasiswa/i Matematika diberikan pertanyaan mengenai pengertian dan kesan awal mendengar kalimat Fungsi Rasional, ya paling tidak jawabannya mirip-mirip dengan yang di atas, dengan tambahan menggambar grafik, mencari asimtot datar, tegak, dan miring.

Istilah-istilah memetakan, bilangan real, bilangan rasional, polinom, asimtot dan sebagainya hanya diketahui oleh sebagian orang. Hanya untuk orang-orang tertentu. Tidak bisa dipungkiri terkadang kita menjawab sesuatu dari sudut pandang kita sendiri, tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Tapi, coba deh kita sekali-kali melihat dari sisi yang lain,

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),

Arti kata Fungsi adalah
fungsi/fung·si/ n 1 jabatan (pekerjaan) yang dilakukan: jika ketua tidak ada, wakil ketua melakukan -- ketua; 2 faal (kerja suatu bagian tubuh): -- jantung ialah memompa dan mengalirkan darah; 3 Mat besaran yang berhubungan, jika besaran yang satu berubah, besaran yang lain juga berubah; 4 kegunaan suatu hal; 5 Ling peran sebuah unsur bahasa dalam satuan sintaksis yang lebih luas (seperti nomina berfungsi sebagai subjek);-- ekspresif Ling penggunaan bahasa untuk menampakkan hal ihwal yang bersangkutan dengan pribadi pembicara;
-- fatis Ling penggunaan bahasa untuk mengadakan atau memelihara kontak antara pembicara dan pendengar;
-- kognitif Ling penggunaan bahasa untuk penalaran akal;
-- komunikatif Ling penggunaan bahasa untuk penyampaian informasi antara pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca);
-- sosial Antr kegunaan suatu hal bagi hidup suatu masyarakat;

Arti kata Rasional adalah
rasional1/ra·si·o·nal/ a 1 menurut pikiran dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal;

Salah satu narasumber (*ciee) berkomentar mengenai arti Fungsi Rasional dalam bidang Fisioterapi:
Menurutnya, Fungsi rasional itu adalah pekerjaan/sesuatu yang dilakukan masuk akal. Dalam artian, apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan akal sehat atau sesuai dengan standarnya.
Contoh kasus:
Seseorang mengalami fraktur (patah) pada bagian kakinya,
Setelah 2 hari operasi, logikanya orang tersebut belum bisa berdiri, bagian kaki yang patah pun belum bisa digerakkan. Hanya bagian yang sehat yang bisa digerakkan untuk menjaga agar yang sehat tidak ikut bermasalah. Tapi kalau ada orang yang berpikir orang tersebut sudah bisa berdiri nah itu salah, tidak masuk akal karena tidak sesuai standar.😳😳

Mari kita hubungkan fungsi rasional secara umum dan dalam Matematika, kuncinya ada pada kata "rasio".

Jika ditinjau secara etimologi, istilah rasional berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu rasio yang artinya kemampuan kognitif untuk memilah antara yang benar dan salah dari yang ada dalam kenyataan. Suatu konsep yang sifatnya normatif yang merujuk pada keselarasan antara keyakinan seseorang dengan alasan orang tersebut untuk yakin, atau tindakan seseorang dengan alasannya untuk melakukan tindakan tersebut. Sedangkan dalam Matematika, rasio adalah ekspresi matematika yang membandingkan dua angka atau lebih. Membandingkan suatu hal dengan hal yang lainnya.

Jika dikaitkan dengan pengertian fungsi rasional, maka kita misalkan g(x) adalah sebuah keyakinan / sebuah hal yang sudah ada dalam teori, kemudian h(x) adalah alasan untuk yakin / sebuah hal yang ada dalam kenyataan, sementara bilangan real x adalah diri kita / seseorang. Sehingga yang terjadi adalah kita menghubungkan diri kita pada sebuah hal yang ada dalam teori dengan yang ada dalam kenyataan atau kita menghubungkan diri kita untuk yakin pada suatu hal dengan alasan-alasannya, serta h(x) tidak sama dengan nol, artinya alasan / yang ada dalam kenyataan harus ada. Hal ini merupakan sebuah nilai "rasio".

Untuk memilah antara yang benar dan salah dari yang ada dalam kenyataan atau untuk mencari keselarasan antara keyakinan dan sebuah alasan, maka sama artinya jika yang kita lakukan adalah membandingkan. Membandingkan sesuatu agar bernilai benar atau salah. Jadi, bisalah kita simpulkan, bahwa istilah fungsi rasional juga bisa berlaku di luar Matematika, hanya saja agak canggung mengatakan sebagai fungsi rasional, namun keadaannya memiliki makna yang sama.

But, thit is just my opinion that I want to share . 😁😁  

Jika ada pendapat lain, silakan berkomentar! Kalian juga bisa mencari penerapan fungsi rasional yang lain. Semangat belajar.

Nah, untuk kalian yang mau tahu tentang Fungsi Rasional dalam Matematika, sesuai janji di atas, saya akan membagikan tugas kuliah saya yang berbentuk sebuah makalah, yang berisi: 
  • Pengertian Suku Banyak, 
  • Definisi Fungsi Rasional, 
  • Cara mengevaluasi Fungsi Rasional, 
  • Operasi Pada Fungsi Rasional, 
  • Nilai Nol dan Nilai Kutub Fungsi Rasional, 
  • Asimtot Tegak, Datar, dan Miring Fungsi Rasional, serta 
  • Grafik Fungsi Rasional. 
Silakan klik di sini untuk mendownload.
Semoga ini bisa membantu teman-teman semua yang membutuhkan.



Mungkin cukup sekian dari saya, semoga bisa bermanfaat, kalau ada yang ingin teman-teman tanyakan silakan sampaikan pada kotak komentar yang ada dibawah atau bisa juga melalui halaman contact blog ini. Terima kasih, selamat berkunjung kembali.

Monday, February 11, 2019

Misteri dibalik Senyum dan Tatapanmu (Cerpen)



"Misteri dibalik Senyum dan Tatapanmu"

Hidup ini indah, bahkan sangat indah jika kita bisa bahagia dan ikhlas menjalaninya. Tidak seperti aku, yang ke sekolah saja selalu terlambat, padahal aku telah bangun sebelum ayam berkokok. Mungkin faktor M (MALAS) yang membuat hidupku terasa biasa.
Pukul 7 tepat, aku baru berangkat ke sekolah, padahal aku sudah tahu kalau pagar sekolah akan tertutup rapat tepat 10 menit dari sekarang. Mau bagaimana lagi? Inilah kebiasaanku setiap hari. Berlari ke sekolah yang berjarak  300 meter dari rumah sudah menjadi sarapan pagiku.
Hari ini, hari Selasa pelajaran pertama adalah Olahraga.
Hmm.. Lumayanlah, pemanasan sebelum dimulai.
5 langkah lagi, aku sudah akan berada di dalam sekolah, tapi pintu pagar telah setengah tertutup dan terlihat Bapak Vincent -penjaga pagar sekolah- telah bersiap-siap menari di atas penderitaanku.
Baiklah, dengan kekuatan yang tersisa. Hap! Hap! Hap! Hap! Haaaappppp! Akhirnya berhasil. Yeayyyy! Aku bersorak dalam hati.
“Telat lagi, kapan berubahnya atuh, Neng?” tanya Pak Vincent. Orang Bandung yang bekerja di kota ini dan orang yang paling pertama akan mengomentari setiap keterlambatanku.
“Hmm.. Nanti saja ya, Pak. Saya masih enjoy seperti ini kok,” jawabku.
“Telat kok jadi hobby sih? Kalau hobby mah yang kerenan dikit atuh, Neng!” nasihat Pak Vincent.
“Setiap orang itu berbeda, Pak. Kalau semuanya sama, bisa heboh dunia ini. Memangnya Bapak mau kalau semua orang seperti Bapak? Istri Bapak nanti akan bingung, melihat Bapak ada dimana-mana. Hehe..” kataku.
“Dasar kamu!” kata Pak Vincent yang terlihat marah.
“Maapiiiiin ya Pak!” teriakku sambil berlari lagi.
Berlama-lama bercakap dengan Bapak Vincent akan membuatku lebih terlambat lagi masuk ke kelas. Sampai di kelas, aku disambut Eva, sahabatku.
“Waduh, Ratu terlambat baru datang ya?” tanyanya setengah meledek.
“Hmm.. Sudahlah, jangan seperti itu, bisa kan?”
“Iya.. Iya.. Maaf ya!” katanya meminta maaf.
“Va, Bagaimana hubungan kamu dengan Chicco? Ada perkembangan?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. Chicco adalah teman kecilku yang disukai Eva
“Jalan di tempat, tapi aku tenang-tenang saja. Karena, sekarang aku akan fokus untuk belajar. Pacaran? Urusan nanti.”
“Wah. Baru kali ini, aku mendengar kata-katamu itu!” kataku.
“Tapi, kalau hanya sekedar kagum saja, kan tidak masalah juga. Hehe..”
“Dasar kamu!” sambil menjitak kepalanya.
“Winda, kita itu tidak akan mengetahui kapan dan pada siapa kita akan jatuh cinta.”
Beginilah Eva, santai menjalani hidup. Berbeda denganku, selalu terburu-buru.
Priiiiiiiiiit! Peluit Pak Ello terdengar, tanda bahwa kami harus segera berkumpul di lapangan. Aku langsung berlari menarik tangan Eva yang sedang merapikan jilbabnya, seketika itu juga 1001 kata mutiara keluar dari mulut Eva.
Sampai di lapangan, aku mencari barisan sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ceramah Eva, tapi itu tidak berlangsung lama, karena aku terkesima melihat seorang lelaki yang masih mengenakan tas dipunggungnya berlari dengan cepat. Aku menyimpulkan, orang itu pasti lebih terlambat dari aku. Tapi, aku baru melihatnya dan perasaan, pagar telah ditutup setelah aku masuk.
Penasaran juga aku dengan orang itu.
Selesai berolahraga, aku mengajak Eva ke kantin. Hm.. baru kali ini, aku yang mengajaknya. Biasanya Eva yang mengajak sekaligus membayarkan belanjaanku. Haha. Begitu keterlaluannya aku dengan sahabatku sendiri.
Di kantin, aku melihat Chicco duduk dan terlihat asyik bercakap dengan temannya, dan Astagfirullah, ternyata teman Chicco adalah seseorang yang terlambat tadi. Jadi, dia akrab dengan Chicco.
“Windaaaaaaaaaaaaaaa,” teriak Eva, tepat di telingaku.
“Eva, kalau kamu berteriak jangan ditelingaku dong!”
“Lalu, dimana lagi?”
“Cukup di dalam hati saja.”
“Bagaimana kamu bisa mendengarnya?”
“Ya, di kirim lewat telepati saja, supaya kamu hemat suara juga.”
“Winda Natasya Nugraha setresssssssss,” teriak Eva (lagi)
“Eva, memangnya kamu tidak malu berteriak di sini? Ada Chicco tuh,” bisikku.
Tanpa pikir panjang lagi, Eva diam seribu bahasa. Dia tidak berani berbicara lagi, mukanya juga terlihat merah merona. Haha. Lucu juga melihatnya seperti itu.

@@@

Di rumah, aku penasaran dengan orang yang kulihat tadi. Aku bingung. Mengapa aku memikirkannya? Padahal aku baru melihatnya tadi pagi, hanya sebatas LIHAT juga. Tidak berbicara dan selebihnya.
Mungkin aku merasa aneh, melihat seseorang yang ternyata lebih terlambat dibanding aku.
Aku teringat Chicco. Dia pasti tahu tentang orang itu. Beginilah aku, sekali penasaran aku tak akan berhenti sampai semuanya jelas.
Setelah mencari informasi dari Chicco dan jejaring sosial yang diberitahu Chicco. Aku sekarang tahu, ternyata dia bernama Arez Aditya. Hanya butuh beberapa menit untuk menjadi akrab dengannya karena ternyata dia tahu nama dan mengenalku.
Ternyata aku cukup terkenal juga di kelasnya.
Setelah lama menganalisis, aku menyimpulkan bahwa dia orangnya pintar, baik, ramah dan humoris. Setiap berkomunikasi dengannya, aku selalu tertawa dengan candaan yang ditulisnya.
“Winda, kamu lagi apa sayang? kok tertawa terus?” tanya Bunda yang melihatku tertawa membaca balasan dari Adit. Aku memanggilnya dengan nama belakangnya, supaya lebih akrab katanya.
“Aku tidak apa-apa Bunda.”
“Bunda lihat, kamu sedang kagum dengan seseorang, benar tidak?” tebak Bunda.
“Tidak kok, Bun,” kataku mengelak.
“Kamu tidak perlu bohong sama Bunda. Bunda tidak akan melarang kamu, tapi kamu harus hati-hati. Jangan seperti teman-temanmu yang lain. Bunda tidak suka itu,” tegas Bunda.
“Tidaklah, Bun. Aku juga berteman sesuai dengan kriteria Bunda kok. Percaya deh sama Winda, anak Bunda yang paling imut ini. Hehe..,” kataku penuh manja.
Senyum mengembang dari wajah Bundaku yang tersayang. Air mataku hampir jatuh, terharu, karena aku melihat Bunda yang begitu sayang denganku.
Maafkan semua salahku Bunda, Aku sangat sayang Bunda.
“Hm.. Tapi, kamu harus janji sama Bunda. Jangan terlambat ke sekolah!”
“Memangnya ada apa Bun?” tanyaku.
“Bunda khawatir melihat kamu yang setiap hari berlari ke sekolah. Bunda takut kamu sakit.”
“Oke deh Bunda, Winda janji deh. Winda tidak akan terlambat lagi supaya Bunda tidak khawatir sama aku.”

@@@

Hari Rabu menjadi hariku yang baru, karena nasihat Bunda semalam yang membuatku sadar bahwa aku harus menghargai waktu dan membuang rasa MALAS-ku untuk selamanya. Pukul 06.30, aku sudah berada di sekolah. Aku datang sebelum Pak Vincent menjaga pintu gerbang. Aku berjalan santai menuju kelas tapi, terhenti karena aku melihat seseorang yang baru aku kenal.
“Hai Winda, wah, kabar baik nih. Kamu datang lebih cepat dari biasanya,” kata Adit.
“Lho, aku kira kamu sering terlambat. Ternyata kamu bisa datang cepat juga ya?”
“Hmm.. Mengejek nih? Haha..”
“Bercanda kok, Dit. Eh, kamu ada urusan apa di sini? Bukannya kelasmu jauh di ujung sana?”
“Aku lagi mencari seseorang, tapi sudah terlihat kok.”
“Siapa sih?” tanyaku penasaran.
“Anak kecil, belum waktunya tahu.”
“Hm.. Dasar orang tua, rahasia terus!” aku kesal, tapi pura-pura. Lagi pula untuk apa aku kesal cuma karena Adit merahasiakan sesuatu denganku.
“Ih, Winda, jangan marah dong! Nanti aku ceritakan deh. Jangan marah ya! Please!” kata Adit membujukku.
Hm.. Untuk apa Adit membujukku seperti itu, seakan dia tidak mau jika aku marah padanya. Aneh.
“Iya.. Iya.. tak perlu segitunya lagi, Dit.”
“Ya sudah, aku duluan ya, Win.”
“Iya. Bye.
Aku melanjutkan perjalananku ke kelas, sambil memikirkan perlakuan Adit padaku. Tapi, aku tidak mau terlalu berbesar hati.
“Kalau kamu sedang jatuh cinta, jadilah dirimu sendiri, seseorang yang sesuai dengan hatimu. Jangan menjadi seseorang yang ingin dilihat oleh dia yang kamu cintai.”
Aku kaget dan berbalik, ternyata Eva yang mengatakannya. Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Aku bersyukur mempunyai sahabat sepertinya yang bisa mengerti aku.
“Cinta itu seperti angin, Va. Kita hanya bisa merasakannya tidak dapat digenggam.”
“Kamu pasti sedang jatuh cinta ya?” tanya Eva.
“Mungkin,” kataku. Hanya itu yang dapat aku katakan, karena aku sebenarnya masih tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.

@@@

 Setelah beberapa bulan lebih aku mengenal Adit, aku makin bingung dengan perasaanku juga perasaannya padaku. Dia begitu peduli, sangat peduli bahkan.
Saat aku bingung dengan tugas-tugasku, dengan baiknya dia mengerjakan dan menjelaskannya, jika aku tidak mengerti. Dia juga selalu mengajarkanku sulap-sulapnya, walau teman-teman yang lainnya juga menginginkan rahasianya, tapi aku mendapatkannya dengan gratis dan cepat.
Hmm.. Apa artinya itu? Perhatian dan pengertiannya kepadaku?
“Yakinlah, orang yang peduli padamu adalah orang yang sangat menyayangimu,” kata Eva yang telah akrab dengan Adit, setelah kuperkenalkan.
Tapi, aku belum yakin dengannya. Aku masih merasakan bahwa dia hanya menganggapku sebagai sahabat saja. Walau dalam hatiku, aku berharap dia mempunyai perasaan yang sama padaku, yaitu cinta. Dibalik senyum dan tatapannya yang selalu ditujukan kepadaku saat kami berpapasan, aku berharap dia merasakan hal yang sama denganku. Walau mungkin itu sesuatu yang mustahil. Tapi sekali lagi, senyum dan tatapannya seakan membenarkan harapanku. Dia selalu mencariku, menanyakanku kepada Eva setiap mereka berpapasan.
“Dalam cinta, jika kamu terus mencarinya, dia akan menghindarimu, tapi jika kamu jadi orang yang pantas untuk dicinta, maka dia akan mengelilingimu.”
Dengan kata itu, aku mencoba untuk membiarkan cinta itu mengalir begitu saja, tanpa mengganggunya. Aku hanya butuh menunggu dan bijaksana. Berhenti mengharapkannya. Karena jika aku adalah orang yang pantas, aku tahu cinta itu akan datang dengan sendirinya.
Berharap dibalik senyum dan tatapannya. Harapan itu akan menjadi misteri, hanya Adit sendiri yang tahu. Aku tidak akan memaksanya untuk memberitahu aku, apa misteri itu?
“Ikhlaslah dalam berbuat sesuatu karena keikhlasan akan berbuah manis dalam kehidupan,” pesan Bunda. Saat ini, aku ikhlas menyimpan harapan dan misteri Adit di dalam hati sambil menunggu matahari berpancar indah di kerajaan hatiku untuk selamanya, sehingga membuat hidupku indah dan berarti.

The End


Catatan:
Cerpen di atas merupakan tulisan sewaktu SMA saya yang pernah saya upload dengan nama pengarang "Fhydhyrah", lolos moderasi pada tanggal 10 April 2014 dan dipublikasikan di sini.

Wednesday, February 6, 2019

Download Drama Can You Hear My Heart (2011) Hardsub Indonesia


Selamat datang teman-teman, terima kasih telah berkunjung di blog saya. Dalam posting kali ini saya akan memberikan sekilas info dan link download drama Can You Hear My Heart (2011) .

Can You Hear My Heart (2011)

https://id.wikipedia.org/wiki/Can_You_Hear_My_Heart

Monday, December 24, 2018

Lamadukelleng (Cerita Rakyat SulSel)

Lamadukelleng (Cerita Rakyat SulSel)

Alkisah, di sebuah negeri di daerah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, hidup seorang raja muda yang arif dan bijaksana. Raja tersebut sangat perhatian terhadap kehidupan rakyatnya. Ia seringkali berjalan-jalan ke pelosok-pelosok desa untuk melihat langsung keadaan rakyatnya dengan menyamar sebagai rakyat biasa.

Pada suatu malam, sang Raja berjalan-jalan di sebuah perkampungan yang terletak di sekitar sungai Jeneberang. Ketika berada di perkampungan itu, tanpa sengaja, ia mendengar percakapan dua gadis miskin kakak-beradik yang cantik jelita.

“Kak, siapakah nanti yang ingin engkau jadikan suamimu?” tanya sang Adik.

“Aku ingin bersuamikan tukang masak Raja,” jawab sang Kakak.

“Kenapa, Kak?” sang Adik kembali bertanya.

“Kalau bersuamikan tukang masak Raja, kita tidak pernah merasa kelaparan lagi seperti ini,” jawab sang Kakak.

“Kalau kamu, siapakah yang engkau inginkan jadi suamimu?” sang Kakak balik bertanya.

“Kalau aku, ingin menjadi istri Raja,” jawab sang Adik.

“Wah, tinggi sekali angan-anganmu, Dik!” ucap sang Kakak.

“Iya, Kak! Aku ingin jadi penguasa negeri ini,” imbuh sang Adik.

Beberapa saat kemudian, keduanya pun tertawa mendengar jawaban masing-masing. Sementara itu, sang Raja yang mendengar percakapan mereka pun tersenyum.

“Baiklah kalau itu yang kalian inginkan. Aku akan mewujudkan angan-angan kalian,” kata sang Raja dalam hati seraya berlalu dari tempat itu.

Keesokan harinya, Sang Raja mengutus beberapa orang pengawal istana untuk memanggil kedua gadis miskin tersebut untuk menghadap kepadanya.

“Hai, Kalian! Ikutlah bersama kami ke istana untuk menghadap Raja!” seru utusan Raja.

“Maaf, Tuan! Kenapa kami disuruh menghadap Raja? Apa salah kami, Tuan?” tanya sang Kakak kepada utusan Raja dengan wajah pucat.

“Maaf, kami hanya menjalankan tugas,” jawab seorang utusan.

Dengan perasaan cemas, kedua gadis itu terpaksa mengikuti para utusan Raja. Di sepanjang perjalanan, hati keduanya terus diselimuti oleh perasaan cemas.

“Jangan-jangan Raja mengetahui percakapan kami semalam,” pikir mereka.

Sesampainya di istana, keduanya pun langsung memberi hormat kepada sang Raja.

“Ampun, Baginda! Ada apa gerangan Baginda memanggil kami?” tanya sang Kakak.

“Aku sempat mendengar percakapan kalian semalam. Benarkah yang kalian katakan itu?” sang Raja balik bertanya.

Mendengar pertanyaan Raja, kedua gadis itu pun semakin ketakutan. Mereka takut berterus terang kepada Raja. Mereka hanya saling melirik.

“Kalian tidak usah takut. Jawab saja dengan jujur!” kata sang Raja.

Oleh karena didesak oleh Raja, akhirnya kedua gadis itu bercerita bahwa sang Kakak hendak bersuamikan tukang masak Raja, sedangkan sang Adik ingin bersuamikan Raja. San Raja pun mengabulkan keinginan mereka.

“Baiklah, aku kabulkan keinginan kalian. Aku bersedia menikah denganmu,” kata sang Raja sambil menunjuk sang Adik.

Mendengar pernyataan sang Raja, kedua gadis yang semula takut berubah menjadi gembira dan bahagia.

“Benarkah itu, Baginda?” tanya sang Adik seakan-akan tidak percaya.

“Percayalah! Aku tidak akan berbohong kepada kalian,” jawab sang Raja.

“Terima kasih, Baginda Raja,” ucap kedua gadis itu serentak sambil memberi hormat.

Seminggu kemudian, pesta perkawinan mereka pun dilangsungkan. Sang Kakak menikah dengan tukang masak Raja, sedangkan sang Adik menikah dengan Raja. Namun, dalam hati sang Kakak terselip perasaan menyesal dan iri hati kepada adiknya yang bersuamikan Raja, sementara ia sendiri hanya bersuamikan tukang masak.

Setahun kemudian, sang Adik melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Namun, sebelum sang Adik sempat melihat bayinya karena pingsan saat melahirkan, sang Kakak yang membantu persalinannya menukar bayinya dengan seekor kucing dan segera membuang bayi itu ke Sungai Jeneberang. Setelah itu, ia memerintahkan beberapa pengawal untuk menyebarluaskan berita itu ke seluruh penghuni istana dan rakyat negeri bahwa istri Raja melahirkan seekor kucing. Sang Raja yang mendengar berita buruk itu pun menjadi malu dan murka kepada istrinya.

“Pengawal! Jika istriku sudah siuman, segera bawa dia ke penjara bawah tanah. Dia benar-benar telah membuatku malu!” seru sang Raja.

“Baik, Baginda!” jawab para pengawal.

Beberapa saat kemudian, sang Permaisuri pun siuman. Para pengawal istana segera membopong tubuhnya yang masih lemas itu ke penjara bawah tanah.

Sementara itu, bayi laki-laki yang dibuang ke Sungai Jeneberang hanyut terbawa arus menuju ke arah hilir. Kebetulan di daerah hilir ada seorang kakek sedang memancing ikan. Saat sedang asyik memancing, tiba-tiba sebuah bungkusan melintas di dekatnya.

“Hei, bungkusan apa itu?” gumam nelayan itu.

Rupanya, kakek itu tertarik melihat bungkusan itu. Ia pun segera mengambil sebatang bambu dan menggait bungkusan itu ke tepi sungai. Alangkah terkejutnya ia saat melihat seorang bayi mungil tergolek di dalamnya.

“Wah, bayi siapa ini? Sungguh tega orangtua yang telah membuang bayinya,” gumam kakek itu.

Tanpa berpikir panjang, kakek itu pun segera membawa bayi itu ke rumahnya dan menyerahkannya kepada istrinya. Alangkah bahagianya mereka, karena telah mendapatkan bayi yang sudah lama mereka idam-idamkan. Sebab, sudah puluhan tahun mereka menikah, tapi belum dikaruniai seorang anak. Mereka pun merawat dan membesarkan bayi itu dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Ketika anak itu berumur belasan tahun, mereka pun membekalinya dengan berbagai pengetahuan, keterampilan berburu, serta ilmu bela diri. Mereka memberinya nama Lamadukelleng.

Waktu terus berjalan. Lamadukelleng tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Sang Kakek dan istrinya merasa bahwa kini saatnya mereka harus menceritakan asal usul Lamadukelleng. Pada suatu hari, ia pun menceritakan bahwa mereka sebenarnya bukanlah orangtua Lamadukelleng.

“Ketahuilah, Nak! Kami ini bukanlah orangtuamu yang telah melahirkanmu. Kami hanya menemukanmu hanyut terbawa arus di Sungai Jeneberang,” cerita si Kakek.

“Jika benar yang kalian katakan itu, lalu siapakah orangtuaku yang sebenarnya? Dan di mana mereka sekarang?” tanya Lamadukelleng penasaran.

“Maaf, Nak! Kami juga tidak tahu siapa sebenarnya orangtuamu. Tapi, jika kamu ingin mengetahui orang yang telah melahirkanmu, susurilah Sungai Jeneberang hingga ke atas gunung, niscaya kamu akan menemukan mereka,” pesan si Kakek.

Keesokan harinya, Lamadukelleng pun bersiap-siap untuk berangkat hendak mencari orangtuanya. Sebelum berangkat, si Kakek membekalinya dua buah benda pusaka.

“Anakku, bawalah keris dan permata pusaka ini! Siapa tahu suatu saat kamu akan membutuhkannya,” kata si Kakek sambil menyerahkan kedua pusaka itu.

“Terima kasih atas semua kebaikan kalian. Kalian telah bersusah payah merawat dan membesarkanku. Kelak jika aku telah menemukan orangtuaku, aku pasti akan kembali menemui kalian,” ucap Lamadukelleng.

Usai berpamitan, Lamadukelleng berangkat menuju ke arah hulu Sungai Jeneberang. Berhari-hari lamanya ia berjalan menyusuri tepian Sungai Jeneberang. Pada suatu malam, ia berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Setelah menemukan tempat berlindung dari dinginnya angin malam, ia pun merebahkan tubuhnya dan langsung tertidur lelap karena kelelahan. Pada malam itu, ia bermimpi didatangi orang tua yang mengaku sebagai leluhurnya.

“Hai, Cucuku! Jika kamu berjalan naik ke arah gunung itu, kamu akan menemukan sebuah telaga yang terletak di lereng gunung. Mandilah di telaga itu dan celupkan keris dan permata pemberian orangtua asuhmu itu ke dalam air telaga. Dengan keris dan permata yang telah dilumuri air telaga itu, kamu dapat mengobati segala jenis penyakit,” pesan orang tua itu.

Keesokan harinya, Lamadukelleng pun segera melaksanakan pesan orang tua itu. Ketika sampai di lereng gunung, ia pun menemukan sebuah telaga yang sangat jernih airnya. Ketika ia akan mencebur ke dalam telaga itu, tiba-tiba seekor naga besar muncul ke permukaan telaga. Ia pun mundur beberapa langkah dan langsung teringat dengan pusaka pemberian orangtua asuhnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera mencabut kerisnya yang terselip di pinggangnya. Ular naga yang merasakan getaran dahsyat dari keris itu menjadi terpaku. Pada saat itulah Lamadukelleng segera menghujamkan kerisnya berulang-ulang ke tubuh ular naga itu hingga mati.

Usai beristirahat sejenak, Lamadukelleng pun mandi dan mencelupkan keris dan permatanya ke dalam air telaga. Ia berharap semoga dengan keris dan pusaka itu akan dapat menolong orang-orang yang membutuhkannya.

Setelah itu, Lamadukelleng melanjutkan perjalanan menuju ke arah gunung. Sebelum mencapai gunung itu, ia menemukan sebuah perkampungan yang tanahnya subur, indah dan sejuk. Namun, ketika memasuki perkampungan itu, ia melihat segerombolan perampok menyerbu dan merampas harta benda para warga. Para warga berusaha melakukan perlawanan. Namun karena jumlah perampok itu cukup banyak dan memiliki ilmu bela diri yang baik, para penduduk pun mulai terdesak. Lama-kelamaan korban pun mulai berjatuhan dari pihak warga.

Lamadukelleng yang melihat keadaan itu segera berkelebat ke tengah-tengah medan pertempuran untuk membantu para warga. Dengan kemampuan bela diri yang tinggi, ia bergerak ke sana kemari dengan gesitnya, menghantam para perampok dengan pukulan dan tendangan secara bertubi-tubi. Dalam waktu sekejap, ia berhasil menghalau para perampok tersebut. Penduduk sangat takjub melihat kesaktian Lamadukelleng.

Ketika suasana mulai tenang, Lamadukelleng segera menyuruh para warga untuk membawa korban ke tempat yang aman. Setelah itu, ia pun mulai mengobati para warga yang terluka terkena sabetan golok dan pedang. Dengan keris dan permata pusakanya, Lamadukelleng berhasil mengobati mereka. Melihat kesaktian Lamadukelleng, para pemuka masyarakat kampung itu pun memintanya agar bersedia mengobati warga lainnya yang terkena berbagai macam penyakit.

“Anak Muda! Bolehkah kami meminta bantuan lagi kepadamu?” pinta kepala kampung.

“Apa yang dapat saya bantu, Tuan?” tanya Lamadukelleng.

“Warga kami banyak yang terkena penyakit, mulai dari kesurupan hingga teluh. Barangkali kamu bisa menyembuhkan mereka,” jawab kepala kampung.

Lamadukelleng pun menerima permintaan kepala kampung itu. Ia tinggal beberapa hari di kampung itu untuk mengobati para warga yang sedang sakit. Berkat keris dan permata pusakanya, ia berhasil menyembuhkan para warga dari berbagai macam penyakit yang menimpa mereka. Sejak saat itu, Lamadukelleng pun terkenal sebagai ahli bela diri dan pengobatan hingga ke berbagai penjuru negeri.

Pada suatu hari, berita tentang kesaktian Lamadukelleng itu pun sampai ke telinga Raja yang tinggal di wilayah pegunungan. Rupanya Raja itu tidak lain adalah ayah kandung Lamadukelleng. Ia sudah bertahun-tahun menderita penyakit lumpuh lantaran mengetahui istrinya melahirkan seekor kucing. Ia tidak bisa bangkit lagi dari tempat tidurnya. Berbagai orang pintar telah didatangkan untuk mengobatinya, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya.

Mendengar kabar tentang kehebatan seorang pemuda yang bernama Lamadukelleng, Raja pun memerintahkan beberapa orang pengawalnya untuk mengundang pemuda itu ke istana. Sesampainya di istana, sang Raja menatap pemuda itu dengan penuh perhatian. Pada saat itu tiba-tiba hati sang Raja bergetar. Dalam hatinya terbersit perasaan tali kasih terhadap pemuda itu. Demikian pula sebaliknya, Lamadukelleng pun merasakan hal yang sama saat berada di depan Raja. Walau demikian, Lamadukelleng berusaha menepis perasaan itu, karena ia harus berkonsentrasi untuk mengobati Raja.

“Maaf, Tuan! Tolong ambilkan aku segelas air minum!” pinta Lamadukelleng kepada seorang pelayan istana.

Setelah air minum tersedia, Lamadukelleng pun mencelupkan permata dan ujung kerisnya ke dalam air itu. Kemudian meminta kepada pelayan istana agar segera meminumkan air itu kepada Raja. Sang Raja pun merasakan minuman itu sangat nikmat dan langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Ajaibnya, sesaat kemudian sang Raja mampu menggerakkan tubuhnya yang lumpuh dengan pelan-pelan. Tak lama berselang, sang Raja pulih seperti sedia kala. Alangkah suka-citanya hati sang Raja. Ia tidak lupa berterima kasih kepada pemuda itu.

“Terima kasih, Nak! Kamu telah menyembuhkan penyakit yang aku derita selama puluhan tahun. Kalau boleh aku tahu, dari manakah asal usulmu? Dan Siapa kedua orangtuamu?” tanya sang Raja.

Mendengar pertanyaan itu, Lamadukelleng hanya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sebab ia sendiri sedang mencari kedua orangtuanya.

“Ampun, Baginda! Hamba juga tidak tahu dari mana asal usul hamba. Tapi, menurut Kakek dan Nenek yang telah merawat hamba, hamba ditemukan terhanyut di Sungai Jeneberang saat hamba masih bayi. Kakek hanya berpesan supaya hamba menyusuri Sungai Jeneberang hingga ke atas gunung agar dapat menemukan orangtua hamba yang sebenarnya,” cerita Lamadukelleng.

“Aku turut berduka cita atas keadaanmu, Nak! Semoga saja kelak kamu menemukan kedua orangtuamu,” ucap sang Raja.

“Terima kasih, Baginda! Hamba juga berharap demikian,” kata Lamadukelleng.

Setelah itu, Lamadukelleng pun disuruh tinggal beberapa hari di sebuah pondok di samping istana.

“Pelayan! Tolong layani pemuda itu dengan baik. Berikan kepadanya pakaian yang bagus dan makanan yang lezat!” titah sang Raja.

Saat malam menjelang, sang Raja duduk termenung seorang diri di serambi istana. Ia membayangkan kisah puluhan tahun yang lalu, ketika istrinya melahirkan seekor kucing. Dalam lamunannya, tiba-tiba sang Raja merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

“Benarkah istriku melahirkan seekor kucing? Ah, tidak mungkin manusia dapat melahirkan seekor binatang,” pikirnya.

Sang Raja pun teringat kepada kakak istrinya yang membantu persalinan istrinya. Ia pun segera memanggil kakak istrinya dan suaminya untuk segera menghadap. Sang Kakak dan suaminya pun terkejut mendengar panggilan Raja. Baru kali ini sang Raja memanggil mereka untuk menghadap. Mereka pun mulai ketakutan.

“Bang! Jangan-jangan Raja telah mengetahui semua kebohongan kita. Perasaan berdosa tiba-tiba menghantui hatiku,” kata sang Kakak kepada suaminya.

“Entahlah, Istriku,” kata suaminya dengan cemas.

Sesampainya di depan Raja, sepasang suami-istri itu pun langsung memberi hormat kepada Raja. Sang Raja pun menatap sang Kakak dengan pandangan yang tajam dan penuh wibawa.

“Seingatku, kamulah yang menjaga istriku saat melahirkan. Benarkah begitu?” tanya Raja kepada sang Kakak.

“Be... benar, Baginda!” jawab sang Kakak dengan gugup.

“Kalau begitu, aku mau bertanya kepadamu. Benarkah istriku melahirkan seekor kucing? Ayo, jawablah dengan jujur!” bentak sang Raja.

Mendengar bentakan Raja, sang Kakak bersama suaminya pun langsung bersujud di hadapan Raja.

“Ampuni hamba, Baginda! Hamba dan suami hamba telah bersalah. Kami telah menukar putra Baginda dengan seekor kucing. Ampuni kami, Baginda! Tolong jangan hukum kami!” pinta sang Kakak.

Mendengar jawaban itu, sang Raja bagai disambar petir. Ia benar-benar tidak menyangka jika sang Kakak bersama suaminya telah tega melakukan hal itu. Sang Raja pun tiba-tiba teringat kepada istrinya di penjara selama berpuluh-puluh tahun. Ia benar-benar merasakan kepedihan yang luar biasa, karena telah menghukum istrinya yang tidak bersalah. Dengan wajah merah padam, ia pun memalingkan wajahnya ke arah sang Kakak dan suaminya.

“Lalu, kamu apakan putraku waktu itu?” tanya sang Raja lebih lanjut.

“Ampun, Baginda! Hamba menghanyutkannya ke Sungai Jeneberang,” jawab sang Kakak.

Mendengar jawaban itu, tubuh sang Raja tiba-tiba bergetar. Saat itu pula, ia langsung teringat kepada pemuda yang telah mengobatinya. Maka muncullah dugaan dalam hatinya bahwa pemuda itu adalah putranya.

“Tidak salah lagi, pemuda itu adalah putraku. Pantas hatiku selalu bergetar bila menatapnya,” kata sang Raja dalam hati.

Sang Raja pun segera memerintahkan pengawal istana untuk membebaskan istrinya dan memanggil Lamadukelleng untuk menghadap. Ketika sang Raja bersama istri dan putranya berkumpul, sang Raja pun menceritakan kisahnya di masa lalu kepada istri dan putranya bahwa bayi yang dilahirkan istrinya dibuang ke Sungai Jeneberang oleh kakak iparnya.

Mendengar kisah Raja yang persis sama dengan kisah yang dialaminya, tanpa ragu lagi Lamadukelleng langsung memeluk Raja yang merupakan ayah kandungnya sendiri. Sang Ayah pun membalas pelukan putranya dengan pelukan erat.

“Putraku! Sejak melihatmu, Ayah selalu merasakan getaran batin dan kasih sayang kepadamu. Rupanya itu pertanda bahwa kamu adalah putraku,” kata sang Raja sambil meneteskan air mata.

“Iya, Ayahanda! Ananda juga merasakan demikian,” sahut Lamadukelleng.

Istri Raja hanya mampu membisu memandangi suami dan anaknya yang sedang berpelukan dengan penuh rasa haru. Beberapa saat kemudian, sang Raja pun segera merangkul istrinya. Mereka pun saling berpelukan menumpahkan kerinduan masing-masing. Suasana haru itu berlangsung cukup lama.

“Maafkan aku, Dinda! Kanda telah mencampakkan kalian sehingga harus mengalami penderitaan hingga puluhan tahun,” ucap Sang Raja.

“Sudahlah, Kanda! Yang penting kita semua sudah berkumpul kembali. Kita akan memulai hidup baru yang lebih baik,” kata sang Istri menghibur suaminya.

Usai melepaskan kerinduan, Sang Raja pun segera berpaling ke arah kakak iparnya dan suaminya.

“Kalianlah yang telah menyebabkan kami menderita seperti ini. Kalian harus mendapat hukuman yang setimpal. Pengawal! Bawa mereka ke penjara bawah tanah!” titah sang Raja.

Seminggu kemudian, Lamadukelleng pun dinobatkan menjadi Raja menggantikan ayahnya yang sudah tua. Lamadukelleng memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana. Semua titahnya senantiasa ditaati oleh rakyatnya. Negerinya pun aman, makmur, dan sejahtera.

Monday, December 17, 2018

I Laurang (Cerita Rakyat SulSel)

I Laurang (Cerita Rakyat SulSel)

Alkisah, di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, Indonesia, ada sepasang suami-istri yang sudah lama menikah, namun belum juga dikaruniai anak. Mereka sangat menginginkan kehadiran seorang anak agar hidup mereka tidak kesepian. Oleh karena itu, setiap malam mereka senantiasa berdoa kepada Tuhan. Namun, hingga berusia paruh baya, mereka belum juga dikaruniai anak.

Akhirnya, mereka pun mulai putus asa. Pada suatu malam, kedua suami-istri itu berdoa kepada Tuhan dengan berkata: “Ya Tuhan, karuniakanlah kepada kami seorang anak, walaupun hanya berupa seekor udang!?” Beberapa lama kemudian, sang Istri pun hamil dan melahirkan. Namun, alangkah terkejutnya sang Istri saat melihat bayi yang keluar dari rahimnya adalah seorang bayi laki-laki yang berbentuk dan berkulit udang. Ia dapat hidup di darat maupun dalam air. Oleh karena itu, ia diberi nama I Laurang (Manusia Udang).

“Bang, Kenapa anak kita seperti udang?” tanya sang Istri heran.

“Adik tidah usah heran. Bukankah kita pernah meminta seorang anak walaupun hanya berupa seekor udang? Rupanya Tuhan mengabulkan doa kita.” jawab sang Suami.

“Iya, Bang Adik ingat sekarang. Kita memang pernah berdoa seperti itu?” kata sang Istri.

Menyadari hal itu, kedua suami-istri itu merawat I Laurang dengan penuh kasih sayang. Mereka memasukkannya ke dalam sebuah tempayan yang berisi air. Beberapa tahun kemudian, I Laurang pun tumbuh menjadi besar. Oleh karena badannya sudah tidak muat lagi, ia pun dikeluarkan dari tempayan. Sejak saat itu, I Laurang tidak lagi hidup dalam air. Ia hidup layaknya manusia lainnya. Namun, ia tidak dapat berjalan karena kakinya terbungkus oleh kulit udang.

Walaupun hanya tinggal di dalam rumah, ia banyak tahu tentang keadaan dan peristiwa-peristiwa di sekitarnya yang didengar dari cerita-cerita ibunya. Suatu waktu, ibunya bercerita bahwa raja yang memerintah negeri itu memiliki tujuh orang putri yang semuanya cantik jelita. Rupanya sejak mendengar cerita ibunya itu, ia selalu termenung dan membayangkan kecantikan wajah para putri raja. Ia juga selalu berangan-angan ingin menikah dengan salah seorang di antara mereka.

“Alangkah bahagianya aku jika mempunyai istri yang cantik. Tapi, mungkinkah aku dapat menikah dengan putri raja dengan kondisiku seperti ini ?” tanya I Laurang dalam hati.

“Ah, aku tidak boleh putus asa dan menyerah sebelum mencoba” tambahnya dengan penuh semangat.

Keesokan harinya, ia pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya itu kepada kedua orang tuanya.

“Ayah, Ibu Sekarang ananda sudah dewasa. Ananda ingin berumah tangga dan mempunyai keturunan,” ungkap I Laurang.

“Memang kamu mau menikah dengan siapa ?” tanya ibunya.

“Ananda ingin menikah dengan putri raja, Bu,” jawab I Laurang.

“Ha, dengan putri raja! Sungguh berat permintaanmu, Nak,” kata ayahnya dengan terkejut.

“Benar, Nak! Mana mungkin raja berkenan menerimamu sebagai menantunya dengan kondisi tubuhmu seperti ini,” tambah ibunya.

“Tapi, apa salahnya kita mencoba dulu, Bu. Bukankah putri raja itu ada tujuh orang dan cantik semua. Siapa tahu di antara mereka ada yang mau menikah denganku,” kata I Laurang mendesak kedua orang tuanya.

Setelah berkali-kali didesak, akhirnya kedua orang tua I Laurang pergi menghadap kepada sang Raja yang terkenal arif dan bijaksana itu untuk menyampaikan pinangan I Laurang.

“Ampun Baginda, jika kami yang miskin ini sudah lancang masuk ke istana yang megah ini. Maksud kedatangan kami adalah ingin menyampaikan pinangan anak kami kepada salah seorang putri Baginda,” jelas ayah I Laurang sambil memberi hormat.

Mendengar penjelasan itu, sang Raja pun tersenyum manggut-manggut sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah mulai memutih.”

“Baiklah, kalau begitu! Aku akan menanyakan hal ini kepada tujuh putriku terlebih dahulu. Siapa di antara mereka yang bersedia menerima pinangan I Laurang,” kata Raja.

Setelah itu, Raja memerintahkan kepada Bendaharanya untuk mengumpulkan seluruh putrinya. Tidak berapa lama, ketujuh putri raja sudah berkumpul di ruang sidang. Raja kemudian menanyai satu per satu putrinya mulai dari yang sulung hingga kepada yang paling bungsu tentang pinangan I Laurang.

“Wahai, Putri Sulung. Bersediakah engkau menikah dengan I Laurang ?” tanya Raja.

“Maafkan Nanda, Ayah. Nanda tidak mau menikah dengan I Laurang. Masih banyak pangeran dan pemuda tampan yang sepadan dengan Nanda,” kata si Putri Sulung menolak pinangan I Laurang. Selanjutnya, Raja bertanya kepada putri keduanya. Namun, jawabannya sama dengan jawaban yang diberikan oleh si Putri Sulung. Demikian pula putri-putrinya yang berikutnya, mereka memberikan jawaban penolakan terhadap pinangan I Laurang. Akan tetapi, ketika pertanyaan itu ditujukan kepada si Bungsu, ia pun menjawab:

“Ampun Ayahanda. Jika Ayahanda berkenan, Nanda bersedia menikah dengan I Laurang.”

“Baiklah, Putriku! Ayahanda akan merestui kalian. Pesta pernikahan kalian akan kita langsungkan tiga hari lagi,” kata Raja.

Mendengar jawaban si Putri Bungsu dan restu dari Raja, ayah dan ibu I Laurang sangat gembira. Dengan perasaan suka cita, mereka pun mohon pamit kepada Raja untuk segera menyampaikan berita gembira itu kepada I Laurang.

“Benarkah Raja menerima pinanganku, Ibu ?” tanya I Laurang seakan-akan tidak percaya mendengar berita itu.

“Benar, Anakku. Putri bungsu Raja yang bersedia menikah denganmu,” jawab ibu I Laurang.

Yakin pinangannya diterima, I Laurang langsung keluar dari kulit kepompong udangnya. Alangkah terkejutnya kedua orang tuanya saat melihat wajah anaknya.

“Waaah, ternyata kamu tampan dan gagah, Anakku !” seru ibunya dengan takjub sambil mengamati seluruh tubuh I Laurang dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.

“Putri Bungsu pasti akan senang sekali mempunyai suami setampan kamu, Nak,” ujar ayah I Laurang.

Setelah itu, dengan ditemani ibunya, I Laurang pergi mencukur rambutnya yang sangat panjang, karena sejak kecil tidak pernah dipotong. Setiap bertemu warga di jalan, ibu I Laurang selalu ditanya tentang orang yang berjalan bersamanya.

“Siapa lelaki tampan yang berjalan di sampingmu itu?” tanya salah seorang warga kepada ibu I Laurang.

“Dia anakku, I Laurang, yang akan menikah dengan putri raja,” jawab ibu I Laurang.

Semua orang tercengang ketika mengetahui bahwa lelaki tampan itu adalah I Laurang. Selama ini, mereka mengenal I Laurang berwajah buruk seperti udang. Saat pesta pernikahan berlangsung, seluruh keluarga istana terkejut melihat ketampanan I Laurang, terutama si Putri Bungsu dan keenam kakaknya. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata I Laurang seorang pemuda yang tampan. Berbeda dengan berita yang mereka dengar bahwa I Laurang itu buruk rupa seperti udang. Si Putri Bungsu pun hidup berbahagia bersama I Laurang. Sementara keenam kakaknya iri hati dan dengki kepadanya. Mereka berniat merebut suami adiknya dengan cara mencelakai si Bungsu. Namun, niat jelek mereka diketahui oleh I Laurang. Oleh karena itu, I Laurang selalu menemani si Bungsu ke mana pun pergi, agar tidak diganggu oleh keenam kakaknya.

Pada suatu hari, I Laurang terpaksa harus meninggalkan istrinya, karena mendapat tugas dari raja untuk pergi berdagang ke daerah lain. Sebelum berangkat, I Laurang berpesan kepada istrinya.

“Dinda. Abang akan pergi berdagang ke negeri seberang. Dinda harus berhati-hati terhadap kakak-kakak Dinda. Rupanya mereka iri hati dan ingin mencelakai Dinda. Oleh karena itu, ambil dan bawalah pinang dan telur ini ke manapun Dinda pergi,” ujar I Laurang kepada istrinya.

“Baik, Kanda. Dinda akan selalu mengingat pesan Kanda,” jawab sang Putri Bungsu.

Setelah suami si Putri Bungsu berangkat, keenam kakaknya mengajaknya bermain ayunan di tepi laut. Si Bungsu pun menerima ajakan mereka tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Sesampainya di tepi laut, mereka bergiliran diayun. Ketika giliran si Putri Bungsu diayun, mereka beramai-ramai mengayunnya dengan kencang.

“Kak, hentikan. Kepalaku sudah pening dan peruktu mual. Hentikan...!!!” teriak si Putri Bungsu dengan ketakutan.

Keenam kakaknya tidak menghiraukan teriakannya. Mereka justru mengayunnya lebih kencang sehingga si Putri Bungsu terlempar ke laut dan tenggelam. Melihat kejadian itu, keenam kakaknya bersorak gembira dengan perasaan puas. Setelah itu, mereka pun pulang ke istana melapor kepada Raja bahwa si Bungsu meninggal dunia karena dimakan ikan saat mandi di tepi laut.

Maka tersebarlah berita bahwa istri I Laurang meninggal dunia karena dimakan ikan. Sementara itu, berkat pertolongan Tuhan, si Putri Bungsu yang tenggelam di laut masih hidup. Ia pun teringat dengan buah pinang dan telur pemberian suaminya. Buah pinang itu ia tanam di dasar laut, sedangkan telurnya ia pecahkan. Lama-kelamaan pecahan telur menjadi besar dan masuklah ia ke dalamnya untuk berlindung. Beberapa bulan kemudian, buah pinang yang ditanamnya itu tumbuh menjadi pohon besar dan tinggi, sehingga melebihi permukaan air laut. Selang beberapa minggu, si Putri Bungsu menjelma menjadi seekor ayam dan kemudian bertengger di atas pohon pinang. Setiap ada perahu yang lewat, ayam itu selalu berkokok dan bertanya tentang keberadaan suaminya.

“Kuk kuruyuk...!!. Di manakah suamiku I Laurang? Bunga Putih nama perahunya!”

Demikian yang terus dilakukan ayam itu setiap ada perahu lewat. Pada suatu hari, dari jauh tampaklah sebuah perahu yang akan melewati tempat ayam itu bertengger. Ketika kapal itu sudah dekat, ayam itu berkokok dengan sekeras-kerasnya dan menanyakan keberadaan suaminya.

“Kuk kuruyuk...!!! Di manakah suamiku I Laurang?”

Mendengar teriakan ayam itu, tiba-tiba seorang lelaki tampan keluar dari dalam kapal dan berdiri di anjungan.

“Aku I Laurang,” teriak lelaki tampan itu.

Kapal itu mendekati ayam yang sedang bertengger di atas pohon pinang. Saat kapal itu semakin dekat, ayam itu langsung terbang ke kapal sambil menangis.

“Bang, Ini aku Putri Bungsu, istrimu,” kata ayam itu.

I Laurang pun segera mengelus-ngelus ayam itu sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra. Beberapa saat kemudian, atas kuasa Tuhan, ayam itu berubah kembali menjadi si Putri Bungsu. Kedua suami-istri itu berpelukan sambil menangis. Setelah itu, si Putri Bungsu menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia menjelma menjadi seekor ayam.

“Sudahlah, Dinda. Mari kita kembali ke istana. Tentu ayahanda, ibunda, serta keenam kakakmu sudah lama menunggumu,” ujar I Laurang kepada istrinya.

“Tapi, Bang! Bagaimana dengan keenam kakakku ? Mereka pasti akan mencari cara lain untuk menyingkirkan Dinda, sehingga mereka bisa menikah dengan Abang,” kata si Putri Bungsu dengan perasaan cemas.

“Dinda tidak usah khawatir. Abang mempunyai cara agar keenam kakak Dinda itu menjadi jera dan tidak akan mengganggu Dinda lagi,” ujar I Laurang menenangkan istrinya. “

Bagaimana caranya, Bang?” tanya si Putri Bungsu penasaran.

“Dinda bersembunyi di dalam peti itu. Kemudian Abang memberi Dinda jarum besar. Jika ada yang memikul peti itu, maka tusuklah pundaknya,” jelas I Laurang.

“Baik, Bang.” jawab si Putri Bungsu sambil mengangguk-angguk.

Ketika kapal yang mereka tumpangi merapat di pelabuhan, seluruh keluarga istana datang menyambut kedatangan I Laurang, tidak terkecuali keenam kakak si Putri Bungsu. Mereka senang sekali I Laurang telah kembali. Dalam hati mereka bertanya-tanya siapa di antara mereka yang akan dipilih oleh I Laurang untuk menjadi istrinya. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha mencari perhatian I Laurang. Ternyata I Laurang pun sudah memahami sikap dan gerak-gerik mereka.

“Barangsiapa di antara kalian yang mampu memikul peti itu sampai ke istana, maka dialah yang akan menjadi istriku,” ujar I Laurang sambil menunjuk peti yang berisi Putri Bungsu.

Mendengar pernyataan I Laurang itu, maka berlomba-lombalah mereka ingin mengangkat peti itu. Giliran pertama jatuh pada putri yang sulung. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat peti itu ke atas pundaknya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia menghempaskan peti itu, karena tidak kuat menahan rasa sakit akibat terkena tusukan jarum di pundaknya. Putri Sulung gagal menjadi istri I Laurang. Selanjutnya giliran putri kedua yang mengangkat peti itu. Namun, baru beberapa meter berjalan, ia menjatuhkan peti itu, karena tidak mampu menahan rasa sakit di pundaknya. Demikian pula putri ketiga, keempat, kelima dan keenam, gagal memikul peti itu sampai ke istana.

“Oleh karena tidak seorang pun yang berhasil, maka kalian gagal menjadi istriku,” kata I Laurang dengan perasaan puas.

Setelah itu, I Laurang memerintahkan beberapa orang pengawal untuk mengikat peti itu dengan tali, lalu mengangkatnya beramai-ramai ke istana. Sesampainya di istana, I Laurang kemudian menjelaskan apa sebenarnya isi peti itu.

“Pengawal. Buka peti itu!” seru I Laurang kepada salah seorang pengawal.

“Baik, Tuan.” jawab pengawal itu.

Setelah peti terbuka, alangkah terkejutnya keenam putri raja tersebut, karena ternyata isi peti itu adalah si Putri Bungsu yang mereka kira sudah meninggal dunia. Oleh karena tidak kuat menahan rasa malu kepada adiknya dan I Laurang, keenam kakaknya itu berlari berhamburan. Putri Sulung berlari ke arah pintu, putri kedua dan ketiga berlari ke dapur, putri keempat dan kelima berlari keluar dari istana, dan putri keenam berlari ke dekat sumur. Akhirnya, si Putri Bungsu pun diangkat menjadi Raja untuk menggantikan ayahnya, sedangkan keenam kakaknya menjadi pelayannya. Putri Sulung yang berlari ke arah pintu bertugas membuka dan menutup pintu; putri kedua dan ketiga yang berlari ke dapur bertugas memasak; putri keempat dan kelima yang berlari keluar istana bertugas menumbuk padi di lesung; dan putri keenam yang berlari ke dekat sumur bertugas mencuci.

Saturday, October 20, 2018

Buntu Kabobong Gunung Nona Enrekang (Cerita Rakyat SulSel)

Buntu Kabobong Gunung Nona Enrekang (Cerita Rakyat SulSel)

Buntu Kabobong atau Gunung Nona adalah gunung yang terletak di Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang yang memiliki bentuk unik dan eksotis. Cerita gunung nona ini diawali dari sebuah kerajaan di kabupaten Soppeng yang masyarakatnya makmur dan sejahtera dibawa pimpinan raja yang amat bijak.

Raja ini memiliki putri tunggal yang cantik jelita. Kehidupan sang raja terbina dengan baik dan terkenal erat adat istiadat di tanah Soppeng. Setelah dewasa sang putri akan dinikahkan dengan pangeran dari Tanah Suppa tempatnya di kerajaan Suppa, pangeran ini adalah anak sahabat dari raja Soppeng. Ia adalah satu satunya pewarisan tahta kerajaan.

Kedua arang tua mereka sepakat untuk menikahkan anak-anaknya apalagi pada saat itu, aturan yang berlaku untuk pernikahan adalah aturan orang tua. Rencana ini ternyata tidak di ketahui oleh sang putri raja Soppeng. Kedua orang tua mereka berkeinginan untuk melangsungkan pernikahan yang lebih cepat.

Rencana pernikahan ini semakin dekat berita pernikahan putra raja Soppeng dengan pangeran raja Suppa telah tersiar di masyarakat. Pesta akan direncanakan akan berlangsung selama tujuh hari tuhuh malam dengan berbagai jenis makanan, berbagai macam hiburan rakyat. Sementara, perasaan sang putri semakin meronta-ronta.

Satu hari sebelum pesta di langsungkan diadakan malam mapacci untuk sang putri. Setelah proses mappacci pada malam itu seisi istana sangat kelelehan sehingga mereka tertidur lelep. Keadaan ini dimamfaatkan sang putri. Ia tak sanggup menjalankan proses pernikahan sehingga ia memutuskan untuk pergi dengan bantuan pelayannya, ia melarikan diri melalui jendela tepat sebelum ayam berkokok. Rencananya ia akan lari kearah utara Soppeng.

Pagi pun tiba, iring-iringan dari kerajaan Suppa. Puluhan kuda, kerbau, dan bermacam-macam lainnya mengiringi Pangeran Raja Suppa menuju Tanah Soppeng.

Berita paginya sang putri meninggalkan istana telah tersebar kemana-mana. Raja Soppeng merasa malu dan harga dirinya terinjak-injak. Apalagi penyebabnya adalah darah dagingnya sendiri. Ia berjanji tidak akan memaafkan anaknya bahkan akan membunuh karena telah dianggap mencoreng nama kerajaan. Sang raja akhirnya memanggil semua tokoh dukun dan prajurit kerajaan. Mereka ditugaskan untuk mencari sang putri melalui empat penjuru mata angin.

Prajurit yang mencari dari arah utara menemukan sang putri tetapi sang putri tidak sendirian. Ia bersama seorang laki-laki dari Tanah Massendrempulu’ yang bernama Tandu Mataranna Endrekang laki barakkanna puang. Lelaki ini menyatakan kepada prajurit bahwa tidak ada yang dapat menyentuh sang putri jika ia masih hidup. Melihat lelaki badan yang besar membuat prajurit mundur.

Keadaan ini disampaikan kepada sang raja, raja mengutus penghulu bersama prajurit dari Tanah Soppeng. Penghulu di utus sebagai penengah antara prajurit dan lelaki dari Tanah Massendrempulu.

Setelah melalui perundingan panjang, penghulu berhasil membuat kesepakatan. Sang putri akan di bawa ke Soppeng tetapi prajurit berjanji akan mengembalikan putri dalam keadaan bernyawa. Namun dari salah satu prajurit ingkar janji. Ia menembus badan putri dari belakang, saat penghulu dan Tanduk Mataranna berunding. Sekejap, Tandu Mataranna menjadi marah dan membabi buta semua prajurit yang ada di tempat itu.

Sementara badan sang puteri terbagi dua. Bagian pusar hingga kepala jatuh dan terbawa arus sungai mata allo. Konon, arus sungai ini tidak melewati Soppeng karena merupakan tempat kelahiran sang putri. Sedangkan bagian bawah inilah yang menjadi gunung nona di Anggeraja.

Motos di masyarakat setempat menjadikan gunung nona dan Gunung Bambapuang sebagai tempat pertapaan bagi pasangan yang akan menikah. Laki-laki bertapa selama tujuh hari tujuh malam di gunung Bambapuang dan perempuan di gunung Nona. Konon, pasangan ini akan memperoleh petunjuk tentang pinangan mereka masing-masing.

Sunday, October 14, 2018

Ambo Upe dan Burung Beo (Cerita Rakyat SulSel)

Ambo Upe dan Burung Beo (Cerita Rakyat SulSel)

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sulawesi Selatan, Indonesia, ada sebuah keluarga petani yang memiliki tiga pasang kerbau. Hewan ternak tersebut digembalakan oleh seorang anak dalam keluarga itu, bernama Ambo Upe. Ia anak yang rajin dan suka menolong terhadap sesama makhluk.

Pada suatu hari, Ambo Upe menggembalakan tiga pasang kerbaunya di sebuah padang ilalang yang luas dan hijau. Menjelang siang, Ambo Upe melepaskan ketiga pasang kerbaunya lalu pergi berteduh di bawah sebuah pohon asam yang rindang di tepi padang ilalang. Di bawah pohon itu, ia duduk bersandar sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Ditengah asyik duduk memerhatikan kerbau-kerbaunya yang sedang merumput, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah benda hitam terjatuh tak jauh dari tempatnya berteduh. Oleh karena penasaran, dihampirinya benda itu. Ternyata benda itu adalah seekor anak burung yang belum bisa terbang, bulu-bulu di badannya belum tumbuh dengan sempurna.

“Wah kasihan sekali burung ini. Badannya penuh dengan luka. Sepertinya burung ini terlepas dari cengkeraman burung elang yang menyambarnya,” gumam Ambo Upe iba.

Oleh karena merasa iba kepada anak burung itu, Ambo Upe pun mengobati dan memberinya makan. Kemudian membawanya pulang ke rumah untuk dipelihara.

Beberapa minggu kemudian, burung itu menjadi besar. Bulu-bulunya tumbuh dengan sempurna. Tampaklah bahwa burung itu adalah seekor burung beo. Ambo Upe senang sekali saat mengetahui hal itu. Sejak saat itu, ke mana pun ia pergi, burung beo itu selalu menyertainya. Ketika Ambo Upe pergi menggembala, burung beo itu pun setia menemaninya.

Pada suatu siang yang sangat terik, usai melepaskan hewan gembalannya, Ambo Upe beristirahat di bawah sebuah pohon hingga tertidur. Baru saja terlelap, tiba-tiba seekor ular mendekatinya dan hendak menggigit kakinya. Untungnya si Burung Beo mengetahui hal itu. Ia pun segera menolong tuannya. Dengan paruhnya yang runcing, ia mematuk mata ular itu hingga berdarah. Ular itu pun merayap pergi karena kesakitan. Selamatlah Ambo Upe dari gigitan ular itu berkat pertolongan Burung Beo.

Burung Beo itu kemudian mendekati dan membangunkan Ambo Upe yang masih terlelap. Ia mengipas-ngipaskan sayapnya pada telinga tuannya. Saat terbangun, Ambo Upe masih sempat melihat ular yang sedang melata pergi. Ia pun menyadari bahwa si Beo baru saja menyelamatkannya dari gigitan ular itu. Dengan perasaan haru, ia membelai-belai Burung Beo itu.

“Terima kasih, Beo! Kamu telah menyelamatkanku dari gigitan ular itu,” kata Ambo Upe terharu.

Demikianlah, setiap Ambo Upe pergi menggembala, si Burung Beo selalu setia menemaninya. Suatu waktu saat musim kemarau, Ambo Upe membawa kerbaunya ke sebuah tanah lapang yang cukup jauh. Ia meninggalkan padang tempat biasanya menggembala, karena rumputnya sudah kering akibat kemarau panjang. Tempat itu sudah sangat dekat dengan hutan. Tempat itu tampak sepi, karena sangat jarang penduduk yang lalu-lalang di sana.

Pada saat Ambo Upe asyik memerhatikan kerbaunya merumput, tiba-tiba dua orang lelaki bertubuh kekar dan berwajah seram muncul dari dalam hutan. Kedua orang itu kemudian menghampirinya. Ambo Upe menjadi ketakutan, karena ia tidak mengenal kedua orang itu.

“Sepertinya mereka bukan orang baik-baik,” kata Ambo Upe dalam hati dengan perasaan cemas.

Ternyata dugaannya benar. Kedua laki-laki itu adalah perampok.

“Hai, Anak Muda! Sedang apa kamu di sini!” bentak salah seorang dari perampok itu.

“Sss… sssa… saya sedang menggembala kerbau, Tuan!” jawab Ambo Upe dengan gugup.

“Di mana kamu melepaskan kerbau-kerbaumu?” tanya perampok yang satunya dengan nada tinggi.

Oleh karena takut dipukuli oleh kedua perampok itu, Ambo Upe pun menunjuk ke arah di mana kerbau-kerbaunya sedang merumput.

“Ayo, kawan! Kita ikat anak ingusan ini!” seru seorang perampok kepada temannya.

“Kita bawa kerbau-kerbau itu pergi,” sambungnya.

Kemudian kedua perampok itu mengikat tubuh Ambo Upe pada sebuah pohon. Setelah itu, mereka segera menggiring kerbau-kerbau Ambo Upe ke dalam hutan.

Burung Beo tidak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengawasi kejadian itu. Namun, secara diam-diam ia mengikuti langkah kerbau-kerbau tuannya yang digiring oleh kedua perampok itu masuk ke dalam hutan. Ternyata kerbau-kerbau tersebut dikandangkan ke sebuah gua di tengah hutan. Maka tahulah ia tempat persembunyian kedua perampok itu.

Dengan cepat, si Beo terbang meninggalkan gua lalu kembali ke rumah untuk melaporkan kejadian itu kepada ayah Ambo Upe. Pada awalnya, ayah Ambo Upe kesulitan memahami isyarat yang disampaikan si Beo, karena ia jarang bergaul dengannya. Namun, pada akhirnya ia pun memahami isyarat itu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada diri Ambo Upe. Ayah Ambo Upe kemudian segera mengikuti arah terbang Burung Beo itu. Sesampainya di padang itu, terlihatlah Ambo Upe terikat tak berdaya pada sebuah pohon. Ia pun segera melepaskan tali yang melilit tubuh anaknya itu. Ambo Upe kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya hingga keenam ekor kerbaunya hilang entah ke mana. Mereka pun pulang ke kampung untuk menyusun rencana.

Sesampainya di kampung, ayah Ambo Upe segera mengumpulkan seluruh warga. Lalu ia menceritakan tentang kejadian yang telah menimpa anaknya. Warga kampung pun memutuskan untuk mencari kerbau-kerbau yang telah dirampok dan menangkap pelakunya.

“Terima kasih, bapak-bapak. Saya siap memandu bapak-bapak ke tempat persembunyian perampok itu. Saya telah mendapat isyarat dari Burung Beo saya yang telah membuntuti perampok itu sampai ke tempat persembunyiannya di sebuah gua di dalam hutan itu,” kata Ambo Upe kepada seluruh warga dalam pertemuan itu.

Warga pun merasa gembira atas pemberitahuan Ambo Upe itu. Beberapa warga kampung segera mengikuti arah langkah Ambo Upe yang dipandu Burung Beo kesayangannya. Mereka berangkat lengkap dengan senjata. Sebagian warga menggenggam tombak. Sebagian yang lain membawa badik diselipkan di depan perutnya sambil menepuk-nepuk pangulunya. Senjata-senjata tersebut siap untuk digunakan pada saat diperlukan.

Setelah berjalan jauh, mereka pun memasuki kawasan hutan yang lebat itu. Nampak dahan kecil patah dan jejak kaki kerbau sebagai pertanda tempat itu sering dilewati oleh manusia dan hewan. Akhirnya, tibalah mereka di sebuah gua di tengah hutan. Warga kampung semakin tidak sabar ingin menangkap perampok tersebut. Warga yang membawa tombak sudah siap untuk melemparkan tombaknya. Demikian pula warga yang membawa badik, mereka sudah mengeluarkan badiknya dari wanoa[3]-nya untuk menikam perampok itu.

“Tunggu sebentar! Kita tidak perlu gegabah,” ujar seorang warga.

“Benar, jangan sampai mereka mengetahui keberadaan kita,” sambung seorang warga yang lainnya.

“Kita kepung saja tempat ini,” ujar ayah Ambo Upe.

Warga pun segera mengurung tempat itu sambil bersembunyi di balik pepohonan. Kedua perampok yang berada di dalam gua itu tidak menyadari hal itu. Keduanya pun keluar dari dalam gua ingin kembali merampok binatang ternak milik warga. Namun, baru beberapa langkah keluar dari mulut gua, tiba-tiba di depan mereka berdiri dua warga kampung dengan badik terhunus.

“Berhenti!” sentak seorang warga.

“Hai, orang kampung! Apa maumu datang kemari?” tanya salah seorang perampok dengan nada menantang.

“Oh, rupanya kalian ingin mengantarkan nyawa kalian kemari,” gertak perampok lainnya dengan sombong. Ia merasa masih lebih kuat daripada kedua warga kampung itu, karena badannya lebih besar dan kekar.

Rupanya, kedua perampok tersebut tidak menyadari jika ada puluhan warga lainnya yang masih bersembunyi di balik pepohonan. Mereka mengira warga yang datang hanya dua orang.

Tanpa mereka duga, tiba-tiba di sekeliling mereka puluhan warga kampung telah mengepungnya lengkap dengan tombak dan badik di genggaman.

“Hai, perampok tengik. Menyerahlah! Kalian sudah kami kepung!” seru ayah Ambo Upe.

“Hai, orang tua bodoh! Kamu kira kami takut kepada kalian semua,” jawab seorang perampok dengan angkuhnya.

“Letakkanlah senjata kalian! Tidak mungkin kalian mampu melawan kami yang berjumlah banyak ini,” seru seorang warga.

“Cih, kalian hanya menakut-nakuti kami,” jawab kedua perampok itu serentak.

“Kami tidak ingin melukai kalian,” tambah ayah Ambo Upe.

“Eh, siapa yang menyebut kami akan terluka?”

“Kalianlah yang akan bermandikan darah. Majulah kalau berani!“ seru seorang perampok sambil memasang kuda-kuda.

“Baiklah. Kalian jangan menyesal jika badikku ini merobek tubuh kalian!” seru seorang warga dengan geram, lalu mengibaskan badiknya ke arah perampok itu.

Melihat seorang warga menyerang, warga lainnya pun ikut membantu. Silih berganti warga menyerang kedua perampok itu. Rupanya, kedua perampok itu tangguh juga. Namun, tak berapa lama, mereka terdesak dan akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh warga kampung yang berjumlah puluhan.

Warga kemudian menggiring kedua perampok itu beserta puluhan kerbau hasil rampokan mereka ke kampung. Mereka pun menghukum kedua perampok itu dengan cara menugasi keduanya untuk menggembalakan semua binatang ternak milik warga selama sebulan. Usai menjalani hukumannya, kedua perampok tersebut menjadi jera dan tidak pernah merampok lagi. Sejak saat itu, Ambo Upe ditemani Burung Beo kesayangannya kembali menggembalakan ketiga pasang kerbaunya dengan tenang dan aman.

Ambo Upe membelai bulu Burung Beonya yang bertengger di pundaknya dengan penuh kasih sayang.

“Terima kasih, Beo! Kamu memang burung yang baik. Kamu beberapa kali telah menyelamatkanku dari ancaman bahaya,” kata Ambo Upe.

Demikianlah Ambo Upe dan si Burung Beo hidup saling menolong. Jika dahulu Ambo Upe menolongnya, kini si Burung Beo yang menolong Ambo Upe. Ambo Upe pun semakin sayang terhadapnya, dan senantiasa memelihara dan merawatnya dengan baik.

Monday, October 8, 2018

Dongeng Ayam yang Punya Sayap Tapi Tidak Bisa Terbang

Dongeng tentang ayam yang punya sayap tapi tidak bisa terbang

Alkisah, dahulu kala ayam masih bisa terbang tinggi seperti halnya burung yang lain. Bahkan, si ayam memiliki kemampuan terbang lebih tinggi daripada burung lain. Dengan sikap yang sombong ayam menantang burung lain untuk beradu terbang dan yang menang adalah yang mampu terbang paling tinggi sampai tidak terjatuh. “Hai, apa diantara kalian ada yang mau melawanku untuk beradu terbang denganku”, kata ayam congkak. “Hei ayam, jangan sesumbar dahulu kamu. Tubuhku yang kecil lebih ringan dan mudah untuk terbang lebih cepat dibanding kamu”, kata merpati gusar. “Owh, baiklah mari kita mulai perlombaan”, sahut ayam.

Semua jenis burung pun berkumpul untuk melihat perlombaan antara ayam dan merpati. Segera setelah dimulai lomba, merpati pun langsung melesat meninggalkan ayam. Dengan tubuhnya yang ringan merpati tidaklah sulit baginya untuk terbang jauh meninggalkan ayam. “Bagaimana ayam? masih merasa hebat kamu?”, ejek merpati. “Jangan senang dahulu kau! aku pasti menyusul”, jawab ayam geram. Perlombaan pun sangat seru. Keduanya saling menyusul hingga akhirnya sampai tidak terlihat oleh burung-burung yang melihat dari bawah. Setelah itu, timbullah niat buruk ayam untuk berbuat curang. Ketika tepat di bawah merpati, ayam langsung menggigit kaki merpati dengan kerasnya beberapakali sampai berdarah-darah kedua kakinya. sehingga kaki merpati yang awalnya kuning kecokelatan menjadi merah berlumuran darah. “K-kkau curang ayam..!!” ucap merpati. Merpati pun jatuh terhempas ke tanah. Dan konon itulah yang menyebabkan sekarang ini kaki merpati berwarna merah.

Burung-burung yang di bawah pun terkejut melihat merpati yang tiba-tiba jatuh terkapar di tanah. Perlombaan dihentikan dan ayam dinyatakan sebagai pemenang. Esok hari ketika merpati sudah sadarkan diri ia menceritakan kejadian kemarin kepada sahabat baiknya yaitu burung elang. Elang yang bersimpati dengan sahabatnya langsung kemudian datang ke tempat ayam untuk menantang perlombaan terbang. “aku terima tantanganmu elang!”, tukas ayam. Akan tetapi ayam sebenarnya merasa takut karena elang adalah burung yang sangat kuat. Selama ini elang hanya tidak ingin ribut dengan ayam, tapi karena ayam yang sudah begitu keterlaluan perlu diberi pelajaran. Ayam akhirnya menemukan ide licik untuk mengalahkan elang.

Hari yang dinanti tiba, burung-burung kembali berkumpul untuk melihat langsung pertandingan antara dua burung yang kuat. Akhirnya pertandingan dimulai, benar saja dugaan ayam ternyata elang adalah burung yang luar biasa kuat. Dalam sekejap elang terbang jauh meninggalkan ayam. Ayam yang merasa tidak bakal mampu mengimbangi kemampuan elang langsung melakukan rencana liciknya. Ia pergi ke tebing sarang burung elang dan di sana didapatkan beberapa telur. Elang pun heran dengan tingkah laku ayam. Tanpa disangka oleh elang, ternyata ayam berniat menjatuhkan sarang beserta telurnya dari tebing. “Hei, apa yang kau lakukan ayam!! Hentikan”, seru elang sembari berbalik untuk menerjang ayam. Tanpa menghiraukan perkataan elang, ayam langsung menjatuhkan telur-telur itu hingga akhirnya pecah saat menyentuh tanah. “Aku tidak akan memaafkanmu ayam!!”, teriak elang. “Aku bersumpah untuk selalu mengincar dan memangsa anak keturunanmu nantinya sebagai pembalasan apa yang telah kau perbuat!”,kata elang. Konon inilah awal mula sebab permusuhan antara ayam dan elang juga awal mula sebab elang selalu memangsa anak ayam.

Ayam yang mengetahui kemarahan elang langsung terbang setinggi-tingginya. Akan tetapi, setiap perbuatan akan menuai balasan. Seketika petir dari langit menyambar tubuh ayam dan menghempaskannnya ke tanah, tubuhnya hangus dan sayapnya pun lumpuh. Kemudian takdir atas ayam pun ditentukan bahwa ia akan menjadi burung yang paling sering dimangsa oleh manusia. Untuk menghilangkan sifat congkaknya, kemampuan ayam dicabut oleh Tuhan. Dan begitulah, yang menjadi asal muasal ayam tidak bisa terbang meski memiliki sayap.