Monday, April 10, 2017

Nostalgia Masa-Masa Ingusan


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. "Bermain" mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan masa kecil, sejuta kisah luar biasa tentang masa-masa ingusan, sebuah masa tak tergantikan di era 90-an. Bisa dibilang kalau setiap orang yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah mengalami masa kecil, kecuali Adam dan Hawa, nah dalam posting ini saya akan mencoba membawa teman-teman kepada masa-masa puluhan (atau mungkin belasan) tahun silam. Sekarang mari ketik tanggal-bulan-tahun tujuan kita dan kemudian tekan Enter (seperti pada sinetron Lorong Waktu).

* * *

Childhood Games

Kita semua pasti pernah merasakan yang namanya masa kecil, barangkali sobat yang baca ini ada yang masih kecil. Seperti kata pepatah, lain burung lain habitat, lain kampung lain pula cerita yang di dapat (pepatah macam apa ini). Saya adalah orang kampung teman (termasuk orang kampungan), saya menghabiskan masa kecil pada sebuah desa di kabupaten sebelah barat laut di Sulawesi Selatan, Kabupaten Pinrang. Masa kecil saya mungkin berbeda dengan masa kecil anak jaman sekarang. Dahulu ketika saya kecil dimana kemajuan teknologi masih belum bisa menjangkau kami, bahkan mungkin kalau signal mau masuk ke kampung saya itu signal akan pikir-pikir dulu, tetapi meski begitu saya dan teman sepermainan kala itu tetap bisa bermain dengan bahagia meski tanpa smartphone dan dunia maya, karena kesenangan tidak harus mahal.

Bisa di bilang permainan masa kecil jaman dulu sangat sederhana, tidak perlu buku panduan, tidak perlu biaya mahal, hanya perlu fisik yang sehat, tempat yang memungkinkan, peralatan seadanya, personil secukupnya (dan yang paling penting adalah izin resmi untuk bermain dari emak).

Dari situlah tercipta sebuah kebahagiaan. Lihatlah bagaimana tumpukan beberapa serpihan keramik dan sebuah bola kasti atau dengan sendal jepit kami bisa bermain, entah apa namanya di daerah kalian tetapi saya dan teman-teman saya menyebutnya boi atau boy (toh penyebutannya sama saja), mungkin karena biasanya dimainkan oleh anak laki-laki jadi namanya seperti itu atau mungkin penemunya bernama Muh. Boy Purnomo atau Boilor Moon dan Boichan, entahlah.

Permainan masa kecil

Ada pula permainan lain yang hanya dengan tali rajutan sepanjang 3-5m yang dibuat dari 1/4 kg karet ditambah beberapa personil terciptalah permainan lompat karet, permainan yang membuat saya bisa melompat lebih tinggi dari tinggi badan saya (saat itu tinggi badan saya masih kalah dengan rice box), ada pula gasing, mercon, layangan, bahkan dengan segenggam kelereng, atau sebuah tongkat kayu dan ban bekas, ataupun dua tongkat kayu yang tak seukuran dan sedikit lubang di tanah (cangke), dua tongkat bambu sepanjang 2m dengan pijakan (longgak/enggrang), bahkan dengan pola garis tertentu diatas tanah bisa menjadi permainan bagi anak-anak 90-an, see bagaimana pecahan keramik dan kapur bisa membuat kami bahagia. Hahah..






Childhood Stories

Saya rindu masa kecil dimana masalah terberat hanyalah PR matematika. Masa dimana setelah pulang sekolah langsung pergi main dengan kawan sebaya, kadang di sungai, kadang di empang, dan kadang dimarahi mamak.

Ketika anak kecil bermain maka akan hanya ada dua hal yang dapat menghentikan permainan, pertama karena panggilan dari mamak dan yang kedua adzan magrib. Selain karena teman-teman yang memang sudah pada bubar.

Ketika adzan magrib berkumandang yang disertai dengan panggilan mamak maka tiada badai yang dapat menghadang dan tiada rintang yang mampu menghalau. Dahulu yang membuat kami berhenti bermain hanya dua hal itu, tanpa perintah dan aba-aba kami semua akan sepakat pulang kalau syarat diatas terpenuhi.

Kalau tidak dipatuhi, kayu bakar menunggu dirumah untuk mendarat di betis atau di pantat. Memang dahulu seperti itu teman, kami benar-benar segan dengan orang tua, jangankan ditegur, hanya melihat matanya melotot saja sempurna kami akan mematung dan ketakutan, saat dimana moral masih sangat dijunjung tinggi.

Satu hal pula yang tidak bisa saya lupakan adalah tontonan masa kecil, meskipun dahulu untuk menonton pun kami harus pergi ke rumah tetangga, itupun kalau ada tetangga yang punya, jadi di kampung-kampung kalau ada yang punya TV kala itu maka dialah orang paling "kaya" pada masanya dan dia pula orang yang rumahnya akan selalu ramai setiap sore hingga malam.

Tontonan jaman dulu sangat berbeda dengan sekarang teman-teman, mungkin sudah banyak yang lupa dengan Rumah Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, Lorong Waktu, Pernikahan Dini, Si Unyil, Jin & Jun, Jinny oh Jinny, Tuyul & Mbak Yul, Gerhana, Lorong Waktu, Saras 008, Anak Ajaib (Indra Ke Enam), Panji Manusia Milenium dan sederet sinema elektronik (sinetron) tempo dulu yang kadang bikin saya bernostalgia ketika mendengar soundtrack khas tahun 90-an.







Kalau malam tiba tak satu pun dari kami boleh bermain diluar lagi, kata nenek nanti diculik hantu. Hari libur pun akan jadi hari bermain gembira, bangun pagi-pagi hanya untuk menonton acara kartun kesukaan, lupa sarapan lupa mandi omelan emak pun menggema di langit-langit rumah sepanjang hari. Tak ada TV pun bermain akan jauh lebih menyenangkan, pagi-pagi berenang di pantai, mencari bambanglecu, berenang di empang untuk menangkap ikan.

Sumber :
http://adriannisa.blogspot.co.id
https://www.brilio.net/
Disqus Comments