Tuesday, November 15, 2016

Mengapa Pendidikan Indonesia Terpuruk?

Mengapa Pendidikan Indonesia Terpuruk?

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Sobat mungkin sudah sering mendengar isu atau pembicaraan tentang kenapa pendidikan di Indonesia bisa terpuruk jika dibandingkan dengan pendidikan di luar negeri, tidak perlu jauh-jauh, kita mengintip saja ke negara tetangga terdekat kita yang beberapa kali sempat bertengkar dengan negara kita, Malaysia. Ibu saya pernah berkata, dulu guru-guru dari Indonesia dikirim untuk mengajar di Malaysia, saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak tapi karena bukan hanya ibu saya yang berkata demikian maka saya asumsikan hal itu benar, tetapi sekarang kita lihat sama-sama bagaimana jadinya kalau Indonesia dibandingkan dengan Malaysia dari segi kemajuan pembangunan, kesejahteraan, pendidikan dan lingkungan hidup. Baiklah tidak perlu yang berat-berat yang kita tinjau, misalnya saja kartun Upin dan Ipin yang laris ditonton anak-anak di negeri kita, kartun buatan Les' Copaque Malaysia ini salah satu pertanda kalau Malaysia lebih maju 1 langkah dari kita dalam hal pembuatan animasi. Oke, kembali ke yang dari awal saya ingin bahas yaitu tentang pendidikan Indonesia. Ada beberapa penyebab hal ini bisa terjadi.

1. Biaya Pendidikan Mahal

Rasanya masih hangat perbincangan saat era SBY tentang pendidikan gratis, sobat yang lahir tahun 90-an pasti tau. Meskipun faktanya sekarang pendidikan negeri sudah benar-benar gratis tapi apakah benar di mata masyarakat pendidikan itu gratis? Kalau kalian punya waktu untuk jalan-jalan ke daerah pedalaman, anak putus sekolah sudah biasa dijumpai. Jangan tanya apa alasan dibalik semua itu, kebanyakan tentang biaya.

Lalu apakah salah jika masyarakat berpendapat "sekolah cuma buang-buang waktu dan menghabiskan biaya, dan belum tentu kalau lulus bisa dapat kerja!". Faktanya masyarakat menjadikan jenjang pendidikan sebagai tolak ukur untuk jenis pekerjaan yang akan didapatkan di masa depan.

2. Mindset Masyarakat tentang Pendidikan

Saat ini sebagian besar masyarakat di daerah perkotaan memiliki pemikiran tentang pendidikan akan menjadi satu-satunya kunci kesuksesan di masa depan, tetapi melihat kenyataan bahwa pelajar-pelajar berlomba menuntut pendidikan setinggi-tingginya demi menjadi: pejabat pemerintah, PNS, pegawai, guru, dosen, dokter, polisi dan entah profesi-profesi apa lagi yang justru membuat saya merasa miris. Pertanyaannya kenapa malah jadi miris!? Jika pendidikan hanya untuk menghasilkan ratusan ribu lulusan calon "pegawai", lantas kapan Indonesia bisa jadi negara maju???

Begini teman-teman, ini untuk yang belum tahu saja, suatu negara dikatakan negara maju jika terdapat 2% dari penduduk produktifnya berprofesi sebagai wirausahawan, mungkin nanti akan saya bahas tentang lebih baik menjadi wirausahawan. Nah, kita cuma butuh 2%, tetapi saya masih ingat sejak saya belum sekolah, Indonesia ditetapkan sebagai negara berkembang bahkan hingga hari ini hingga tulisan ini selesai dibuat Indonesia masih disebut sebagai negara berkembang, itu artinya selama rentang waktu tersebut negara kita tidak pernah memiliki 2% wirausahawan dan negara kita tidak pernah menjadi negara maju.

Akibatnya jumlah pengangguran di Indonesia terus bertambah karena lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah maupun swasta tidak bisa menampung sekian banyak lulusan yang ada setiap tahunnya. Namun mindset seperti itu masih lebih baik jika dibandingkan dengan yang terjadi di daerah pedalaman seperti daerah tempat tinggal saya. Saya akan menceritakan sebuah kisah yang terjadi di kampung saya. Suatu ketika datang seorang sarjana yang telah menyelesaikan pendidikannya, entah tidak mendapat pekerjaan di kota atau ingin mencari pekerjaan di kampung sehingga ia kembali, namun apa yang dia kerjakan di kampung, menjadi seorang petani. Tetangganya hanya berkata, "saya tidak perlu sekolah untuk bisa tahu tentang ilmu pertanian". Apa artinya ini? Orang berpikiran bahwa seorang yang berpendidikan hanya akan bekerja dengan pekerjaan yang tidak mengandalkan tenaga, hanya mengandalkan otak. Di kampung saya orang berpendidikan tidak sedikit yang menjadi pengangguran saja, akhirnya masyarakat beranggapan bahwa sekolah tidak ada gunanya karena ujung-ujungnya kalau tidak menjadi pengangguran, maka akan menjadi orang yang bekerja serabutan.

3. Sistem Pendidikan di Indonesia

Sistem pendidikan yang di anut Indonesia menurut saya memiliki banyak kekurangan, kalaupun sobat tidak sepemikiran dengan pendapat saya, hal ini saya dasari dengan fakta yang telah saya ungkapkan sebelumnya, yaitu tentang bagaimana kelihatannya pendidikan di Indonesia, bagaimana hasil yang diperlihatkan oleh sistem pendidikan di Indonesia.

Salah satu yang menurut saya paling mendasar adalah sistem pendidikan Indonesia yang berorientasi pada nilai, serta ujian menjadi penentu tentang seberapa jauh ilmu seorang pelajar. Apa akibat dari hal ini? Faktanya nilai dianggap sebagai hal yang paling berharga bahkan nilai sepertinya dianggap sebagai Tuhan bagi pelajar. Saya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman, mempelajari sesuatu tanpa tekanan dan target tertentu akan membuat kita mudah dan lebih memahami apa yang dipelajari tersebut. Misalnya saja sobat belajar tentang kalkulus karena tertarik dengan limit atau integral, maka sobat akan lebih mudah memahami ketimbang belajar karena besoknya akan ada ujian kalkulus.

4. Kurikulum Pendidikan Indonesia

Teman-teman, saya tidak tahu negara kita ini negara dengan pergantian kurikulum terbanyak atau cuma salah satu negara dengan kurikulum terbanyak tapi dengan seringnya pergantian kurikulum pendidikan di Indonesia dan fakta tentang bagaimana pendidikan di Indonesia rasanya membuat saya miris, mau dibawa kemana pendidikan di negeri ini, mau jadi apa penerus-penerus bangsa nanti? Lihat saja hasil pencarian Google dengan keyword kurikulum di indonesia.


Sebenarnya saya agak kaget ketika mengetahui bahwa Indonesia ternyata sudah sering melakukan pergantian kurikulum sebab yang saya tau hanya dua kurikulum yang digunakan saat masa sekolah saya, yaitu kurikulum KTSP 2006 dan kurikulum 2013. Namun maksud saya begini teman-teman, saya tidak tahu apa kendalanya tetapi mengapa Indonesia tidak mencoba menerapkan sistem pendidikan seperti di salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik, misalnya saja Finlandia yang menurut saya menarik karena menitik-beratkan pada kompetensi guru sehingga seorang guru benar-benar bertujuan untuk membuat peserta didiknya paham dengan materi pelajaran dan di dukung kegiatan praktik yang memfokuskan pemecahan masalah sendiri dan juga kurikulum pendidikan yang fleksibel.

Mungkin cukup sekian yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurangnya mohon di maafkan, kalau ada yang kurang nanti dilengkapi kalau ada yang lebih nanti dibagi-bagi. Akhir kata saya berharap agar pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik di usia Indonesia yang kini telah mencapai 71 tahun. Indonesia #AyoBerubah, kalau masalah pelajaran intinya seorang pelajar paham dengan materi pelajaran bagaimanapun cara memahaminya bagaimanapun gambaran yang diberikan. Sekian dan demikian, assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Disqus Comments