Saturday, October 8, 2016

Si Penggalau yang Lebay

Ring Basket SMA Negeri 1 Pinrang

"Lebay mu deh Hadi, baper-an..." Ahh, entah sudah berapa mulut yang berkata seperti itu ke telingaku. Untuk beberapa telinga mungkin kata-kata sejenis itu adalah sebuah ejekan, namun bagi si penggalau yang "lebay" ini itu merupakan sebuah pujian yang sangat indah, sudah "lebay" bukan!?

"Lebay" salah satu kata yang cukup populer yang memiliki makna tersirat di kalangan penggunanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tidak ada satu katapun yang berakhiran huruf "y" selain "arasy". Namun dibalik fakta menarik itu, kata "lebay" yang tidak saya mengerti arti dan maksud sebenarnya itu ternyata mempunyai hubungan dekat dengan alay, "asli anak lebay". Oke, cukup soal "lebay". Selain itu ada satu hal juga yang mengganggu pikiran saya belakangan ini, yaitu tentang kata baper. Entah siapa yang memulai entah kapan dimulai kata baper mulai bermunculan. Kata orang-orang yang sering menggunakannya, baper itu singkatan dari "bawa perasaan", akan tetapi bukankah setiap orang pasti baper!? Tentu, setiap orang pasti membawa perasaan masing-masing, tidak mungkin membawa perasaan teman ataupun tetangganya, tak peduli dimana, tak peduli kapan, pasti setiap orang baper. Istilah orang-orang jaman sekarang membingungkan.

Ohiya, ada satu hal tentang saya. Mungkin sudah menjadi rahasia umum jika di belakang saya sering di sebut sebagai orang yang "lebay" dan baper-an, namun saya bukanlah anak abg alay yang tidak menyadari akan hal itu, cukup untuk menjadi orang pertama yang mengolok diri sendiri tentang "lebay" itu sendiri. Bisa dibilang kalau itu sudah menjadi hobi kebiasaanku, namun kusadari akan hal itu lebih dari orang lain. Menurut saya itu adalah salah satu cara dimana saya dapat membuat orang lain tertawa. Sepertinya mulai "lebay" lagi. Tak peduli seberapa "lebay"pun selama itu tidak merugikan orang lain akan saya lakukan. Baiklah, sekarang saya punya cerita, anggap saja cerita "lebay".

Dear himawari, ahh, satu cerita menyentuh baru saja selesai kubaca, ceritanya sangat singkat, bahkan lebih singkat dari cerita si Kancil yang menghitung buaya atau cerita Kabayan yang menaklukkan sang raja, hanya butuh satu paragraf kecil untuk menuliskan cerita itu, namun yang menyedihkan bukan dari cerita itu, tetapi yang membaca cerita itu.

Matanya terpaku pada layar 15 inci di depanya, membaca kata demi kata dengan penuh rasa ingin tahu, dengan rasa penasaran yang tinggi tentang kata apalagi selanjutnya, tergambar jelas di wajahnya bak seorang pecinta novel sedang membaca fiksi favoritnya. Itu cerita tentang kepribadian seorang pemuda yang sebenarnya tidak ia kenali sama sekali. Saat itu hati si penggalau yang "lebay" mungkin sedang berada di saat terburuknya, sudah lama ia tak merasakan seburuk itu sejak beberapa bulan terakhir, sangat menyedihkan. Namun tangisan tidak selamanya menjadi cover yang pas untuk sebuah kesedihan, terkadang senyuman dapat menjelaskannya lebih baik.

'Sepertinya kamu terlihat sangat bahagia.' Dia bergumam dalam hati, gumam yang sebenarnya sangat ingin dia katakan kepada orang yang menulis cerita yang sedang dibacanya itu, benar-benar gumam, seperti yang dikatakan KBBI, "suara omongan yang tertahan dalam mulut", tertahan kemudian menghilang bak segumpal asap.

Tidak perlu waktu lama untuk membaca selesai cerita itu, hanya 1 menit, 1 menit yang terasa berlangsung jauh lebih lama dari 60 detik sebelumnya, tak ada satupun orang yang menyadari selain si penggalau yang "lebay", tidak ada. Usai membaca hingga akhir, kembali ia membaca judul cerita itu, memastikan tak ada satupun kata yang terbaca salah, memastikan tak ada satupun huruf yang tertinggal untuk di baca. "Story about your boyfriend please...".
Disqus Comment
Parse Tool