Thursday, October 27, 2016

Koala Kumal dan Hutan

Koala Kumal dan Hutan

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Silakan masuk teman-teman, anggap saja rumah sendiri. Jangan heran saya bilang rumah, karena bagi saya rumah bukan selalu tentang tumpukan batu-bata dengan atap tapi rumah adalah apa saja yang membuatmu merasa nyaman menerima dan menyambutmu kapanpun kamu lelah dengan hari-harimu kapanpun kamu lelah dengan kehidupan. My little home to tell some stories.

Kalian tahu tidak tentang kisah yang digambarkan Raditya Dika dalam film Koala Kumal, film yang mengisahkan tentang perjalanan si tokoh utama, Dika, menyelesaikan masa sakit hatinya. Sakit hati sepertinya pernah dialami sebagian besar orang, entah itu orang ganteng atau orang cantik, entah dia orang kaya atau orang miskin. Sakit hati bukan tentang kisah dramatis yang dibuat-buat dan seolah kisah itu kisah paling menyedihkan yang pernah ada, karena senyuman bahagiapun bisa saja bentuk lain dari sakit hati.

Saya pernah sakit hati, seperti yang saya bilang tadi, setiap orang bisa saja sakit hati, tapi saya bukannya sakit hati pada seseorang seperti yang dialami kebanyakan orang, sakit hati dengan orang yang paling disayang misalnya, tetapi saya sakit hati dengan orang yang setiap hari kulihat, setiap hari bersamaku, bahkan saya tidak bisa lepas darinya, dia adalah diriku sendiri.

Saya sakit hati dengan diriku sendiri, perasaan sakit hati yang entah sampai kapan mau menetap. Kisah ini bermula pada pertengahan semester II. Sebagai pengantar saya akan mengambil sedikit penggalan dari film Koala Kumal, yaitu pada saat Dika dan Andrea (mantan pacarnya) berkeliling bersama melihat pameran lukisan, ada sebuah lukisan yang diambil dari kisah nyata, kisah tentang seekor koala yang meninggalkan hutan habitatnya berbulan-bulan dan setelah kembali, hutannya telah tidak ada, lukisan yang menggambarkan seekor koala ditengah-tengah batang pohon hutan yang telah gundul, ekspresi si koala digambarkan begitu sedih seolah mengatakan pada siapapun yang melihatnya "saat ini aku telah kehilangan". Dika mengatakan, "Kasihan yah, dia ninggalin sesuatu yang udah nyaman untuk dia trus pas dia balik lagi tempat itu udah beda, jadi sesuatu yang dia gak kenal lagi". Entah siapa yang salah, si koala atau yang membuat hutan itu tak sama lagi.

Saya pernah memiliki "hutan" seperti si koala, tapi ini bukan hutan dalam arti sebenarnya, dia adalah seorang gadis yang hampir sebaya denganku dengan watak periang hampir dalam segala hal, dia selalu bersemangat dan tersenyum dan juga dia adalah "hutan" yang nyaman bagiku andai diriku si koala, dan saya menyebutnya Sanjurius. Saat memasuki awal semester II masa kuliahku, saya mulai mengenal lebih banyak teman di kampus hingga saya melihat "hutan" yang lebih hijau dan lebih lebat dari "hutan" yang kutempati sekarang, akhirnya pada pertengahan semester saya benar-benar pindah ke "hutan" baru itu, membuatku benar-benar melupakannya.

Lanjutan dari kisah ini kurang lebih sama dengan si koala. Saat saya sadar bahwa "hutan" yang lebih hijau dan lebih lebat tidak akan bisa menjadi "rumah" jika hanya karena dua hal itu kita menempatinya, saat kita menemukan "hutan" yang lebih hijau dan lebih lebat, maka berpindah "hutan" akan kita lakukan lagi, dan akan terus seperti itu hingga kita sadar bahwa "hutan" yang pertama adalah rumah yang sesungguhnya. Kita akan selalu bisa kembali ke rumah yang sebelumnya, meskipun tidak selalu kita akan tetap bisa masuk ke rumah tersebut dan tinggal di dalamnya.

Saat saya kembali untuk mengenal Sanjurius yang sekarang, pada saat yang sama saya sadar semuanya tidak seperti dulu lagi, entah saya, dia, atau keadaan yang telah berbeda, sekeras apapun usaha untuk membuat semuanya kembali seperti dulu, sekeras itu pula pukulan yang datang dan menghancurkan semuanya. Heraclitus sang filosof mungkin benar tentang "kita tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama, kalau aku melangkah ke dalam sungai untuk kedua kalinya, aku atau sungainya telah berubah". Saya atau dia saat ini benar-benar telah berbeda dan tak akan pernah seperti dulu lagi.

Ada dua hal yang dapat kupelajari dari sini, bahkan dari si koala dan hutannya, bahwa yang terpenting bukan tentang mencari yang terbaik, tetapi menjadikan yang telah ada sebagai yang terbaik. Dan juga bukan soal usaha untuk kembali pada dulu yang terbaik, bukan karena tidak mungkin, selalu ada jalan kembali meskipun tidak selalu kembali pada hal yang sama tapi dengan kembali kita bisa mengambil apa yang sebelumnya pernah "ketinggalan".
Disqus Comments