Monday, December 28, 2015

Usaha Melawan Takdir: Muhammad Hadi Purnomo

Usaha Melawan Takdir

Hari ini adalah hari awal tahun ajaran baru SMA Negeri 1 Pinrang. Para siswa kelas X yang naik ke kelas XI sibuk mencari dimana kelas baru mereka di lembar pengumuman yang ditempel di depan kelas masing-masing. Berbagai ekspresi dapat terlihat dari raut wajah para siswa, ada yang tertawa bahagia karena dapat sekelas dengan teman baiknya atau cowok idolanya, dan ada pula yang kecewa karena berada di kelas yang kurang menyenangkan.

Sebut saja Miko. Salah seorang siswa yang juga sedang sibuk mencari dimana kelas barunya berada. Dengan wajah penuh keringat namun tetap tampak ceria, kelas demi kelas dia telusuri, lembar demi lembar pengumuman ia baca untuk mencari dimana namanya berada.
Kelas XI IPA 3, tertulis begitu besar di bagian atas kertas pengumuman yang tertempel di salah satu kelas. Tanpak beberapa siswa berkumpul didepan kertas tersebut, hiruk pikuk suara berisik khas anak sekolahan menghiasi langkah Miko menuju ke dalam kelas tersebut. Beberapa orang diantaranya sudah Miko kenal, baik dari teman sekelas yang dulu maupun teman se-organisasi, namun tetap saja lebih banyak orang yang tidak ia kenal.

Matanya melirik mencari bangku yang masih kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang memanggil nama Miko.

"Miko, sini, kita duduk sebangku aja." Teriak seorang siswa yang tampak seusia dengan Miko. Usep, cowok berkulit agak gelap yang agak kurus berpostur tubuh sedang, tidak tinggi namun tidak pendek.
Dia adalah teman Miko di sebuah organisasi sekolah. Meskipun tidak terlalu saling kenal satu sama lain, namun kecanggungan diantara mereka tampaknya berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya di organisasi.

"Kamu duduk dimana?" Lanjut Miko ketika berbalik mencari sumber suara tadi.
"Ayo sini, tas kamu simpan disini, kita duduk bersebelahan." Seraya menarik lengan Miko dan menunjukkan sebuah tempat kosong yang berada tepat disamping tempat Usep.
"Oke, iya deh."

Beberapa saat kemudian, seorang guru laki-laki berkulit putih agak keriput, masuk ke kelas kemudian langsung duduk di meja guru bagian depan. Beberapa siswa langsung berlari masuk ke kelas dan mengambil posisi masing-masing. Diam dan hening di dalam ruangan tersebut.

“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu..” Guru tersebut mengucapkan salam, dan dijawab pula salam tersebut dari para siswa. “Baiklah, sekarang saya adalah wali kelas kalian, perkenalkan nama saya Drs. Abd. Hakim, dan saya adalah seorang guru matematika.” Perkenalan awal dari guru tersebut. Pembicaraan terus berlanjut, pembicaraan yang membuat para siswa dapat lebih mengenal wali kelasnya, begitu pula sebaliknya.

Kemudian tiba saat dimana guru tersebut mengabsen satu per satu muridnya. Nama urutan pertama disebutkan, seorang siswi mengangkat tangannya, satu persatu disebutkan dan satu per satu pula siswa bergilirang mengangkat tangannya. Hingga tiba saat nama Miko disebutkan, dengan semangat dia menjawab “hadir” sambil mengangkat tangannya setinggi mungkin. Beberapa mata tampak tertuju padanya, entah apa yang mereka pikirkan.
Beberapa nama setelah nama Miko, disebutlah nama seorang siswa yang terkenal, terkenal karena kenakalannya, banyak siswa yang berpikir tidak akan sanggup berada di kelas yang sama dengan siswa tersebut, Anca. Miko memiliki beberapa pengalaman buruk bersama Anca, ia sangat membenci Anca dan berpikir bahwa ia tidak ingin melihatnya lagi, namun nasi sudah jadi bubur, ia sekelas dengan Anca.

Ekspresi kelam langsung tampak dari wajah beberapa siswa, tak terpungkiri Miko. Dalam hatinya ia berpikir, apa yang harus dia lakukan. Sebuah ide terlintas dalam benaknya. Setelah jam istirahat, ia mencari seorang temannya dari kelas yang lain, Ryan dari kelas XI IPA 4.

Miko pernah mendengar kabar angin bahwa Anca ingin pindah kelas ke XI IPA 4, nah, pastinya Ryan setuju jika ia ditukar dengan Anca, Miko yakin. Yang membuatnya yakin, pertama, Ryan juga tidak menyukai Anca, Ryan adalah teman baik Miko dari kelas X.

Diantara kerumunan siswa yang lalu lalang, Miko mencari Ryan. Dengan wajah penuh harapan semoga dia dapat menemukan Ryan. Dari ujung barat ke ujung timur, dia terus mencari tanpa membuahkan hasil, tampaknya Ryan tidak kesekolah hari ini. Kekecawaan pun tertulis jelas di wajah Miko.
Disappointed.

Keesokan harinya, Miko sengaja datang pagi-pagi kesekolah untuk menantikan kedatangan Ryan. Dan akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba, orang yang ia tunggu muncul dari balik bangunan yang menghubungkan dari parkiran, Ryan datang, dan belum sampai ia dikelasnya, Miko langsung menghampiri tanpa banyak basa dan basi.

“Katanya, Anca akan pindah ke kelasmu!” Miko langsung ke inti pembicaraan tanpa salam pembuka.
“Kata siapa?” Sambung Ryan tanpa banyak bertanua sebelumnya.

“Kata orang-orang dia akan pindah ke kelasmu, nah, pasti kamu tidak akan setuju dengan hal iu, maka dari itu aku berpikir bagaimana jika kamu tukaran saja dengannya di kelasku. Kamu yang ke kelasku dan dia yang ke XI IPA 4.” Ucap Miko memperjelas.
“Baiklah, aku mau.” Ucap Ryan sambil berlalu.

Keesokan harinya, ternyata Anca ingin benar-benar pindah, Anca dan Ryan pun membuat kesepakatan untuk bertukar kelas. Anca setuju, setelah menyampaikannya kepada staf yang mengurus tentang kelas mereka segera bertukar.

Namun beberapa masalah kemudian muncul, pertama, meski telah di setujui oleh staf guru namun nama Ryan di absen kelas tak kunjung berubah. Dan yang kedua, Anca tidak diterima oleh wali kelas XI IPA 4.
“Bagaimana ini?” Tanya Miko pada Ryan.

“Aku juga tidak tau, mungkin aku tidak jadi pindah kelas.” Jawab Ryan.
“Tapi mungkin kita bisa bicara baik-baik dengan Wali kelas IPA 4.” Sambung Miko.
“Aku tidak yakin.” Ucap Ryan tampak menyerah.
“Baiklah, sekarang ayo kita bicara padanya dan jelaskan apa alasannya.” Miko langsung menarik Ryan untuk menemui wali kelas IPA 4.

Mereka benar-benar harus menguras keringat untuk bicara dengannya, Wali kelas IPA 4 bisa dikatakan agak killer. Pembicaraan panjang dan lebar mereka lakukan dengan guru tersebut, mereka menjelaskan alasan demi alasan agar guru tersebut mengizinkan.

Namun, bak seorang malaikat turun dari langit, tiba-tiba guru tersebut menyetujuinya. Rasa bahagia tampak dari wajah kedua siswa ini, Miko dan Ryan. Meski mereka harus berhadapan dengan guru yang sangat menyeramkan itu. Sejak saat itupun, Ryan resmi pindah kelas, dan akhirnya nasib siswa-siswa XI IPA 4 bisa terselamatkan dengan pindahnya Ryan.

Ditulis oleh : Muhammad Hadi Purnomo
Disqus Comment
Parse Tool