Monday, December 28, 2015

Talla' Ka: Muhammad Hadi Purnomo

Talla' Ka

PERASAAN itu masih ada, kata-katanya masih terniang dalam gendang telinga Ani, kata-kata suaminya. Kini ia berada di pembaringan, mencoba menahan rasa sakit itu, rasa sakit yang telah menjadi saksi atas perjalanannya. Takkan pernah dia melupakan semua yang telah di perbuat suaminya. Ada yang sangat ingin Ani katakan padanya, “Talla Ka’.” Dia sudah lelah menghadapi kehidupan seperti ini bersamanya.

Suara mobil terdengar serak memarkirkan diri di depan rumah, suara mobil yang sudah tak asing lagi bagi Ani. Yah, itulah suaminya, baru saja pulang entah dari mana. Dia sering keluar rumah dan pulang malam, bahkan handphone suaminya sangat jarang di pegang Ani.

Sesaat terdengar suara pintu yang di ketuk, dia sudah menyadari hal itu, namun, dia merasa lelah, dia tidak sanggup membuka pintu itu, yang dilihatnya hanya akan pemandangan yang sama dengan yang kemarin-kemarin. Rasanya ia ingin mengatakan pada suaminya.

“Sebaiknya kamu di situ saja, kamu tidak perlu masuk” sambil mengunci pintu rapat-rapat. “Kamu pergi saja, biarlah mobil yang telah susah payah orang tuaku beli demi kamu, biarlah kamu bawa, ambillah, tapi kamu jangan pernah kembali.”

Tetapi entah mengapa, sungguh mustahil baginya untuk mengatakan hal itu pada suaminya. Apakah na doti ka suamiku, batinnya berujar.

Ani berdiri menghampiri pintu. Penampilannya sangat lusuh, daster yang ia gunakan kusut, rambutnya tampak seperti tidak pernah di keramas. Tubuhnya kurus, sangat pedih.

“Kamu dari mana?” seraya membuka pintu. Di depannya telah berdiri seorang laki-laki, yah itu benar. Penampilannya begitu rapi dan necis, tapi Ani tidak peduli dengan hal itu.

“Sebaiknya kamu tidak perlu tahu.” Tatapannya langsung berubah, nada suaranya berganti. “Kuharap semuanya baik-baik saja jika kamu tidak tau.” Dia langsung saja masuk, langsung menuju kamarnya.

Sudah lama Ani dan suaminya pisah kamar, dia tak ingin selalu bersamanya.

“Kau seharusnya tahu, jam berapa sekarang, kau seharusnya pulang lebih awal. Aku tidak suka kau selalu begini, aku lebih memilih semua ini berakhir. Aku benci kau, aku...” kata-katanya terpotong.

“Aku sudah sering mendengar perkataan itu, aku bosan mendengar semua itu. Sudahlah.” Nada suaranya meninggi.

Ani kini kembali ke pembaringannya. Masih dengan perasaan yang sama seperti hari-hari kemarin. Haruskah aku menderita seperti ini terus, batinnya berucap.

* * *

Malam yang pekat kini berubah menjadi binar cahaya. Cahaya itu menyusup melalui jendela. Cahaya kuning keemasan yang hangat dan indah. Si jantan menyapa dengan semangat, seolah tak mengerti apa yang dirasakan Ani.

Kegiatan orang-orang di kompleks rumah itu mulai ramai, pedagang, ojek, anak-anak turut meramaikan. Jangan pernah berharap.

Teringat kenangan itu, bagaimana Ani bisa jadi begini. Bagaimana semua ini terjadi.

Kala itu akhir tahun, dia datang di rumah Ani secara tiba-tiba, entah tanpa alasan atau secara tidak sengaja. Dia sedang dalam masalah, para penagih hutang sedang mencarinya, terlebih lagi setelah dia buron, dia telah membunuh seseorang. Dia kesini hanya untuk sembunyi, sembunyi dari mereka.

Entah mengapa Ani bisa menerimanya, entah mengapa semuanya terasa baik-baik saja. Tak ada masalah, tak ada rasa curiga. Apakah semuanya akan baik-baik saja. Hingga akhirnya mereka menikah. Terikat janji bersama.

Ani tersadar, dia terbangun oleh sesuatu. Ambisi itu semakin memaksa. Aku harus mengatakannya, batinnya berucap.

Dia melangkah perlahan sambil menjinjing ambisinya, melangkah menuju ruangan itu. Pelan namun pasti.

“tok-tok-tok.” Begitu keras ketukannya.

“Ada apa? Apa yang kau inginkan?”

“Kita harus bicara!” seraya menarik tangan suaminya itu, di genggam sangat keras. “Aku ingin mengakhiri semua ini, kita harus pisah.”

“Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti.”

“Talla Ka’”

“Aku tidak bisa.”

“Kalau begitu tinggalkan aku, pergi dari sini sekarang.” Melayang. ‘Plak-pluk’ Dua tamparan itu, sekaligus.

Ani melangkah meninggalkannya, mendekati sebuah tas koper Polo yang terletak di atas meja kamarnya. Dengan wajah memelas seraya membawa tas itu keluar.

“Tas ini berisi semua pakaianmu, pergilah.” Dia turun, tertunduk, bersujud dihadapannya. “Tapi sebelum engaku pergi, ku mohon, Talla Ka’ ”

“...” terdiam membisu.

“Kumohon, ini permintaan terakhirku padamu.” Benih itu muncul, begitu bening namun pedih. Dia menjalar meninggalkan bekas dijalannya, hingga akhirnya dia terjatuh. Namun dia tetap tenggelam dalam diam. Tak satu huruf pun keluar dari bibir yang kering itu, hanya bergetar tanpa alasan.

Sungguh penyesalan tak terbendung. Kaki itu melangkah keluar seraya deruan suara roda koper, dihadapan sembah sujudnya. “Jangannn, jangan pergi!” tangan berusaha meraih, terlambat. Wajah pria itu tak sedikitpun berbalik, terburu-buru membuka pintu, berusaha keluar.

Dia berdiri dari sujudnya, berusaha bangkit untuk mengejar. Pintu gerbang menjadi saksi pembatas.

“Kumohon jangan pergi dulu!” tangisannya semakin pedih, tak ada yang bisa menahannya lagi.

Namun Ani hanya bisa tercengang saat sebuah taksi berhenti tepat dihadapan laki-laki itu. Tiada harapan lagi dalam mata wanita itu, semuanya telah hancur, tak mungkin bisa disatukan lagi yang telah terpisah. Pintu harapan itu telah tertutup, mesin penyayat itu semakin menderu-deru. Namun diam itu akhirnya bersuara.

“A... a... aku...” suara itu membuat Ani semakin tercengan namun tetesan itu tak juga berhenti. Mulut pria itu mulai terbuka, namun dengan wajah yang tampak sangat terpaksa, akhirnya diam kini terisi. “Malam ini juga, aku bukan lagi suamimu!” seraya menutup kaca mobil “Selamat tinggal”

Roda itu berputar, sangat cepat. Terbesit tanya dalam hati, mengapa dia tidak membawa mobil itu? Batinnya bertanya entah siapa yang akan menjawab.

Deruan itu lama-kelamaan menghilang, tenggelam ditelan gelapnya malam. Lampu belakang yang berwarna merah tampak menghilang setelah melalui sebuah belokan.

Ditulis oleh : Muhammad Hadi Purnomo
Disqus Comment
Parse Tool