Monday, December 28, 2015

Pelangi Di Malam Hari: Rizal Dzul Fadly

Pelangi Di Malam Hari: Rizal Dzul Fadly

Petikan-petikan lembut menampar kabut. Hentakan waktu cepat-cepat berlalu. Keinginan menyenangkan telah dilupakan. Kebahagian pun tak menjanjikan. Semua bagaikan pleonasme yang naif terhadap waktu. Hidup tak selalu diatas terkadang dibawah agar keadilan tetap berjalan. Tapi ketika hidup ini berada dibawah dan tak kembali keatas. Putus asa mungkin akan menjemput. Mendatangkan segala kebencian dan melukiskan segala pertanyaan. Jika variasi orygrafi sulit di mengerti. Tatanan sastra tak terasa istimewa. Rasa syukur bukannya dikubur. Mungkin hanya takdir yang sulit dimengerti.

Aku adalah penulis yang bisa dibilang berbakat, paling tidak begitulah kata teman- temanku. Namun, apa yang mereka ungkapkan tak terasa dalam benakku. Memang pernah kukatakan “membaca buku adalah hidupku, menulis adalah jiwaku. Namun percayakah kalian keduanyalah yang membawaku ke tempat ini. Dengan sebuah lampu yang redup berhadapan dengan buku, penuh dengan kebencian dan haus akan kasih sayang.

Apa yang aku ungkapkan mungkin bertentangan dengan para penulis atau sastrawan rasakan, terlebih ayahku. Dua hal tersebut telah menjadi bagian hidupnya. Dengan mengoleksi buku akhirnya ayahku mendirikan toko buku yang bernama R2, ya ... itulah namaku, Reyhan Rivai. Melalui hobby menulis akhirnya karya prosanya dapat menafkahi keluarga kami. Dengan disiplin menulis dan megirimkan cerpen setiap hari, selalu saja as pegawai. Pos yang datang mengantarkan wesel honor tulisannya. Bagi ayahku menulis tidak sekedar sarana berekspesi karena kegiatan itu ia mendapatkan tambahan penghasilan.

“kamu harus mampu menjadi penerus estafet bakat ayahmu, kalau bukan kamu siapa lagi nak ?”
Ungkapan itu telalu sering aku dengar dari Ibu. Maklum, aku anak semata wayang anak yang diangan-angankan menjadi penulis sehebat ayahku. Dengan dasar yang telah kumiliki aku selalu berusaha. Tetapi bayang-bayang selalu menyelinap dibenakku, membuatku seperti orang waras melebihi tingkat kewarasan yang menyebabkan Ayahku mengurungku disini.

Semuanya berawal ketika aku memasuki jenjang SMA. Kudapati guru yang menurutku seorang yamg paling bersemangat dalam hal mengenai tulis-menulis. Ia kenalkan aku dengan dunianya , dunia sastra. Anehnya, meskipun ayahku sastrawan namun hanya ketika itu aku merasa memulai sesuatu yang baru.
Ilustrasi yang lemah membuatku salah mengartikan dunianya. Sebuah pertanyaan, 1001 kata terpadu menjadi jawaban. Sangat sulit, apa lagi bagiku yang belum mahir linguistik dan belum tahu etimologi. Tapi ketika aku dan guruku membuat novel dengan waktu yang sama, sungguh sulit dipercaya, rangkaian ceritaku melahirkan sebuah novel. Hanya kurung waktu seminggu aku menyelesaikannya, sama dengan waktu yang dibutuhkan guruku.

“kau berhasil menembus tembok yang selama ini membelenggu ketika mengalirkan gagasan. Yang hebatnya, sepanjang cerita melalui dialognya-dialognya, kau mampu menggambarkannya dengan amat jelas bagaimana menjadi tokoh utama, bertutur begitu enak, tebal tipis suara tokoh rekannya dalam berbicara indah didengar, great novel” begitulah kata guruku dengan rasa bangga yang menurutku agak berlebihan terhadapku anak didiknya.

“aku hanya menguasai masalah yang akan kuceritakan. Aku juga menjadikan kisah yang kupaparkan nampak amat hidup, sehngga membacanya tidak seperti membaca diklat yang kering, tetapi pembaca dapat melihat seperti tanyangan film yang sarat konflik” jawabku dengan kalimat yang pernah diungkapkan Korie Layung Rampan. Penulis yang menjadi motivator bagiku.

“Seberapa hebat si novelku sehingga bapak berkata demikian ? jawabku dengan nada penasaran.
“30 menit” jawab guruku dengan menunjuk novelnya.

Mungkin dia bermaksud agar aku sendiri yang menbandingkan novelnya dengan novelku. Seketika aku mengambil novelnya lalu membaca dengan teknik yang cepat, agar waktu 30 menit yang diberikan guruku tak habis percuma. Membaca dengan 2 bab awal, 3 bab pada pertengahan, dan 2 bab akhir.
“ bagaimana pendapatmu nak ? ” pertanyaan yang spontan dengan nada penasaran ketika aku baru beberapa detik selesai membaca novelnya.

Segman ini yang paling aku benci, rasanya aku dihipnotis oleh kata-kata yang amat sering aku baca. Menyadarkanku bahwa hidup memang adil, terlampau sering kupermainkan kata-kata tapi kali ini jelas kata-kata yang mempermainkanku. Sungguh tak kuduga jawaban yang keluar dari mulutku sangat tak pantas dilontarkan kepada seorang yang berperan penting dalam hidupku.

“ buku apa ini ? ” jawabku dengan balik bertanya. Lalu dengan trachea yang mengeras kuucapkan “ plagiat” sebuah kata yang mengandung makna tiruan, saat itu otak kananku mampu merespon bahwa rangkain kata-katanya, konflik dan plot yang digunakan sama saat aku memandang kreasi motivatorku. Ya, buku Korie Layun Rampan sama dengan buku karya guruku.
Aku tak heran jika guruku melayangkan tamparan kewajahku, penulis pasti meluapkan amarah jika karya dikatakan plagiat. Semua rasa bangga, kagum, dan segala kata memuji menjelma menjadi untaian kata amarah dan kecewa.

“jika kamu pintar gunakalah dengan baik dan benar sehingga hatimu terbiasa untuk menjaga segala apa yang ingin kamu ucapkan” inilah kata terakhir yang dikemukakan guruku terhadapku. Meski ada rasa takut dalam wajah jika aku melaporkannya kepada pihak yang berwenang. Mungkin itu alasan sehingga dia tak meluapkan amarahnya terhadapku.

Sangat kusesali, bukan hanya kataku tapi kejadian itu membuatku malas sekaligus benci akan melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis. Ya…itulah arti membaca menurut kamus. Pandanganku memberikan kesan bahwa semua akibat kegemaranku membaca. Memang manusia pada hakikatnya menurui teks, tapi hidupku terasa menentang segalanya.

Untung aku dapat meluapkan segalanya dalam karya prosa-prosaku. Meski kedua orang tuaku tak mampu menerima apa yang tlah kuperbuat. Tapi kubiarkan semuanya mengalir apa adanya. Seperti kata guru yang selalu memberiku motivasi.

“yang indah hanya sementara, yang abadi adalah kenangan, yang ikhlas hanya dari hati, yang tulus yaitu dari sanubari, bukan mudah mencari yang hilang, bukan mudah mengejar impian, namun ada yang lebih sulit yaitu mempertahankan apa yang ada. Karena yang terikat bisa terlepas, yang terhenggap kadang membelenggu, seperti kata pepatah bila kamu tidak dapat memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki’.

.Tak terlepas dari novelku yang lain, aku juga menceritakan pengalamanku seperti karyaku yang lain yang tak direspon. Tapi entah mengapa kali ini para penulis dan sastrawan kembali kubuat gempar. Aku membuat novel yang mustahil bagi mereka. Novel yang kulahirkan menceritakan seorang penulis dengan aura benci terhadap membaca. Mustahil bagi mereka, tapi inilah fakta. Segalanya terlukis dari apa yang kualami bukan apa yang kubaca. Penulis bagi mereka seharusnya memiliki 3 prinsip yaitu membaca...membaca..dan menulislah.

Hingga ketika cahaya senja dipagi hari menerobos lewat kaca jendela kamarku yang gordijn-nya tlah kubiarkan terbuka. Kicauan burung-burung terasa ternodai dengan suara klakson mobil tepat didepan rumahku. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.

Langkah kaki ibuku terdengar mendekati pintu yang melewati depan kamarku, semenjak konflik yang aku alami dengan guruku, kedua orang tuaku menjadi minin kasih sayang terhadapku. Bahkan membangunkanku pun dia enggan. Dia mengabaikanku, gegasnya hanya menuju pintu.

Sebelum kekecewaanku berakhir, kemudian ibuku memanggil namaku, tersentak kudatang dengan menampilkan keseriusan yang masih melor. Ternyata yang datang adalah 2 orang yang berasal dari penerbit yang ternama. Namanya pak Sunip dan pak Geta. Mereka tlah membaca novelku dan bermaksud untuk memberiku honor. Saat ibu membaca suratnya terdapat angka yang membuatnya tercengang.

“haaa……1 milyar ?” matanya melotot kesurat itu kemudian menatap mataku. Dia bagaikan mimpi melewati 7 lapisan atmosfer yang berselang jatuh dengan kecepatan cahaya. Mungkin dengan menerima kontrak ini membuatnya memaafkanku dan menghapus segala dosaku terhadapnya. Maka tanpa basa basi kuambil kertas itu, rasa benci dalam otak membuat mataku tak ingin membacanya. dan hanya bergegas membubuhkan tanda tanganku. Ketika ku memalingkan pandangan ke ibu terdapat wajah yang bangga terlukis seakan melupakan segala yang pernah terjadi.

Dengan waktu seminggu yang diberikan penerbit. Novel yang kubut kebanyakan menentang atau pasrah kepada nasib dan takdir. “Entah novel ini menarik atau tidak, entah berhasil atau gagal, semuanya itu saya serahkan kepada para pembaca. Hanya masyarakat merupakan kritikus yang paling murni dan adil” tanyaku dengan hati yang pasrah. Sungguh, godaan emosional yang berasal dari lingkunganku membuatku hanya mengikuti apa yang kurasa dalam membuat novel penerbit. Hanya lampu malam menemaniku setiap saat, berulang-ulang hingga untaian kata menjadi sebuah novel. Seminggu berselang pak Sunip dan pak Geta kembali datang kerumahku. Kali ini mereka membawa beberapa polisi. Mereka sangat ganas bagaikan bom, minyak, gas, dan bensin yang berteman kemudian siap untuk meledak. Mereka bukan lagi mengetuk pintu tapi menampar-nampar pintu. Kuhanya mendengar dari balik pintu kamarku. Ketika aku keluar, kudapati ibuku menangis. Ditangannya terdapat surat yang dulu aku bubuhkan tanda tangan. Lalu kubaca dengan seksama isi surat itu. Disurat itu menjelaskan bahwa novel yang harus aku buat sebanyak 11 buah dalam waktu seminggu. Seminggu ini aku hanya membuat 1 novel berarti 10 novel lagi yang harus kubuat.

Gemetar tanganku dibuatnya. Semua kejadian bahkan mengalahkan hal terpahit yang pernah kurasakan. Nyata dan abadi didalam jiwa, merenggut kebahagiaan. Bukan hanya aku. Ibu dan ayahku bahkan ikut larut dalam masalah. Polisi menahan ayah sebagai pengganti diriku yang belum cukup umur untuk menjadi tahanan. Tokoh buku ikut disita yang membuat ibu menjadi histeris. Pedihnya seperti diiris-iris sembilu. Entah siapa yang patut aku salahkan. Aku lalai karena tidak membaca suratnya, ibuku terlalu silau akan harta, Ayah tidak peduli ketika itu dia hanya peduli pada segala kepentingannya, dan kedua orang itu mungkin tuhan telah menetapkan takdirnya menjadi penipu bagiku seperti namanya Sunip suka nipu dan Geta gemar berdusta. Tapi untaian kataku tak dapat mengulang waktu.

Kumenangis menyesali semuanya diiringi ibu yang berselang kemudian. Namun inilah takdir tuhan yang sulit diterima. Sepertinya hanya kepedihan yang selalu datang menertawakanku. Ku dikurung disini untuk menebus semua kesalahanku. Membuat banyak karya prosa namun dunia tak pernah melihatku. “Pelangi dimalam hari”. Ya itulah kata yang tepat bagiku. Seorang penulis yang tak pernah dilihat, namun namanya telah ada dan abadi. Sebuah kalimat menjadi panutan untuk diriku tetap berkarya bahwa “ hidup layaknya sederet kata yang hanya menyisakan beberapa spasi, terkadang kita butuh koma untuk mengistirahatkan perjalanan yang lelah dan panjang. Seringkali muncul tanda tanya disaat kita kehilangan arah. Sesekali juga menghadirkan tanda seru ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun yakinlah…!! Titik bukanlah akhir dari segalanya, karena masih ada banyak kata yang harus kita untai menjadi sebuah kehidupan yang indah. Indah bagaikan pelangi sesungguhnya bukan sepertiku, pelangi dimalam hari.

Ditulis oleh : Rizal Dzul Fadly
Disqus Comment
Parse Tool