Saturday, December 12, 2015

Malam Bersama Sebuah Boneka: Reyhan Ismail

Malam Bersama Sebuah Boneka Muhammad Reyhan Ismail

“Kamu mau kemana?” tanpa menjawab pertanyaan itu aku bergegas ke toko yang menjual beberapa boneka di pinggir jalan. Dari tadi sore hingga pukul setengah lima aku berada di rumahnya. Dia Zul temanku. Hanya berbincang tentang persiapan besok dalam pertandingan Pencak silat yang telah kami impikan jauh-jauh hari.

Sebenarnya rencana ini telah lama berada dalam otak ku, tapi nyatanya belum berani aku lakukan. Dan besok pikiran ini harus bersih dari hal-hal luar yang dapat mengganggu pertandingan. Setelah menanyakan dimana dia berada di jejaring sosial, aku langsung pamit dari rumah Zul, bergegas ke tempat itu. Perlahan aku turun dari motor, dengan baju yang agak basah hasil dari latihan tadi sore. Pura-pura menanyakan harganya, padahal sebelumnya aku sudah tau berapa uang yang harus kukeluarkan dan kukumpulkan sebelum membelinya, karena tidak mungkin aku minta kepada orangtua lantas berbicara bahwa aku ingin membeli sebuah boneka untuk seorang gadis.

Rumahnya berada disamping jalanan besar, searah dari rumahku ketika pulang dan berangkat sekolah. Sampai disana tepat didepan rumah itu. Aku bingung harus berbuat apa? Sungguh, hal yang memalukan. Beberapa kali aku singgah kemudian melewatinya lagi, singgah kemudian melewatinya lagi. Entah berapa kali hal yang sama kulakukan.Kini aku berhenti tepat di rumahnya lagi. Aku berdalih menarik lengan panjang dari sweaterku yang menampakkan jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah enam. Mengapa tidak. Dari tadi aku selalu diperhatikan oleh penjual warung sop saudara yang berada di depan rumahnya setelah jalanan, seperti perampok yang bersedia menghabiskan seisi rumah yang ada di depanku ini.Dia selalu berdiri didepan warung itu. Mengipas ikan bakar yang ada di depannya, sambil pura-pura melirik setiap gerakanku. Sungguh, pemandangan yang sangat bodoh.

Adzan maghrib telah bergema menelusri langit-langit bumi. Kini aku benar-benar benci dengan ketidakberanianku. Setelah beberapa kali melakukan hal yang sama. Aku memutuskan untuk menyerah, menghapus seluruh rencana bodoh itu. Aku melewati rumahnya memandangi teras depan rumahnya yang selalu kosong saat sore kedatangan ku. Kemudian menoleh ke arah warung itu,penjual itu tetap disana menatapku seakan berkata aman, akhirnya si perampok pulang....

***

Malam ini adalah malam hasil kepengecutan ku dari senja tadi. Bulir-bulir hujan perlahan mengenai genteng rumah. Aku berbaring diatas kasur menatap langit-langit kamar dan meratapi kegagalanku. Besok aku akan berangkat. Apakah aku harus memikirkan kegagalan ini setiap saat bertanding? Ini hanya akan menjadi hambatan. Aku harus menyelesaikan urusan senja tadi malam ini. Tiba-tiba sebuah ide melintas dalam benakku.

Diluar hujan dan waktu kini menunjukkan pukul 20.35. Kini aku kembali keluar melanjutkan kegagalan senja tadi. Dengan memakai jaket hitam. Boneka itu aku masukkan kedalam tas agar tidak basah. Tubuhku basah,jalanan sangat gelap malam ini dan helm ku penuh dengan butiran-butiran hujan.

Kini aku berhenti tepat didepan rumahnya. Suasana senja tadi sama sekali tidak berubah. Didepan rumahnya tetap berdiri seorang penjaga warung yang mengipas ikan bakarnya, aku tidak menoleh. Takut dia akan menyadari kedatanganku. Aku mengeluarkan Handphone mengirim sebuah pesan.

*Pengirim : Kamu dimana?

(beberapa menit kemudian)

*Q : Dirumah.

*Pengirim : Bisa tidak kamu keluar sebentar?

(beberapa menit kemudian)

*Q : Keluar darimana, untuk apa?

*Pengirim : Rumah, aku ada diluar (Pesan gagal terkirim)

Sungguh. Tuhan sepertinya memberi banyak cobaan. Percakapan itu berhenti tepat saat pulsaku habis. Sang penjaga warung sekarang menatapku, menyadari keberadaanku selarut ini. Dia kini benar-benar curiga.

Hujan bertambah deras membasahi seluruh tubuh membuat rambutku menguntai basah. Tasku kupeluk dan kulindungi dengan tubuh. Tidak ada cara lain, aku melangkah turun dari motor. Melangkah perlahan memasuki pekarangan rumahnya. Sampai diteras. Kukeluarkan boneka itu dari dalam tas. Menaruhnya tepat di teras itu, tanpa terkena hujan. Aku kemudian melangkah kembali. Melihat Si penjaga warung yang menatapku sayup-sayup, aku kembali menatapnya tersenyum Lihatlah si perampok ini, berhasil membawa pulang kebahagiaan...

Saat pulang, aku segera mengisi pulsa Handphone yang sempat habis tadi. Memberanikan diri menelponnya untuk pertama kalinya. Kemudian aku duduk diluar rumah menunggu panggilanku diangkat, tanpa sadar masih memaki seragam yang masih basah. Tanganku bergetar,jantungku berdetak kencang sekali. Bukan karena kedinginan. Hanya karena dia mengangkat teleponku untuk pertama kalinya.

Aku : Ha...Halo?

Q : Iya?

Aku : Kamu dimana?

Q : Di kamar sama sepupu.

Aku : Bisa tidak kamu keluar sebentar, ada makhluk lain yang menunggu kamu diluar...

(aku tersenyum)

Q : Ahh, takut

Aku : Hehehe, bercanda kok, keluar aja sebentar

Q : Oiya, tunggu...

Aku : Bilang klo sudah didepan pintu yaa

Q : Hmm..

Hujan mulai mereda, tapi tubuhku malah bertambah dingin. Belum pernah aku menelpon orang yang benar-benar aku cintai selama ini. Aku melihat timernya sudah lewat satu menit. Ini sejarah!

Q : Ini sudah didepan pintu

Aku : Buka pintunya

Q : Iyaa,..

Aku ; Sudah?

Q : Iyaa, trus?

Aku : Hadap kiri, trus maju ke teras kamu

(Seketika dia tidak menjawab apa-apa)

Q : Astaga,...

Aku : Sudah dapat?

Q : Iyaa, tapi ini untuk apa?

Aku : Entahlah, anggap saja sebagai hadiah dari orang yang kesurupan, hehehe

Q : Oo, hahahh, makasih kak

Aku : Sama-sama

(aku tersenyum sendiri, entah karena apa)

Aku kemudian menutup telepon dan mengirim sebuah pesan singkat Namanya Mrs. Pinky dijaga baik-baik yaa :)

Malam itu perasaanku buncah akan kebahagian, hatiku sempurna layaknya seorang pemuda yang benar-benar jatuh cinta. Besok aku siap berangkat.

Ditulis oleh : Muhammad Reyhan Ismail
Disqus Comment
Parse Tool