Saturday, December 12, 2015

Senja di Ujung Malam: Khaeriyah Nasruddin

Senja di Ujung Malam by Khaeriyah Nasruddin

“Selamat pagi, Mbak. Ini ada kiriman dari Pak Danias.” Kunang-Kunang Jantan yang tua itu menyodorkan sepucuk surat. Ku sambut uluran tangannya. Dan aku sebagai Kunang-Kunang Muda seperti biasa menerima suratnya. Dan, menyuruhnya duduk di samping ku mencicipi secawan kopi hangat yang berasal dari putik-putik bunga.

“Kenapa, Pak?” Kunang-Kunang Jantan itu hanya tersenyum ketika kuberi pertanyaan.

“Ada apa, Pak? Sibuk lagi, ya?” tanyaku kembali mengulang pertanyaan sama pada hari yang lalu.

“Orang-orang sedang menanti kiriman suratnya.” Kali ini Kunang-Kunang Jantan itu memberi jawaban dari penolakannya.Setelah sebelumnya hanya menggeleng.

“Kalau begitu Bapak harus tepat waktu.”Ku pandang wajah tuanya. Di sana terentang jelas kulit putihnya mengeriput.“Bapak memilih pekerjaan tukang pos, karena ingin belajar setia?” ucapku kemudian. Kunang-Kunang Jantan tua kembali menggeleng.

“Lantas, mengapa Bapak memilih pekerjaan tukang pos?”

“Saya sudah berjanji kepada anak saya.”

“Janji?”

“Iya, setiap hari saya mengirimkan surat buat gadis-gadis cantik. Dengan begitu, saya bisa mencari jodoh buat dia.Maukah Mbak berkenalan dengan dia?”

“Terima kasih, Pak. Dengan senang hati.”

“Mbak gadis yang baik. Saya sungguh senang jika dia bisa memiliki, Mbak.” Aku hanya menyungging senyum mendengar ucapannya, tanpa memalingkan pandang ke arahnya.

Aku terdiam, juga Kunang-Kunang Jantan tua itu. Kami sama-sama terdiam. Suasana menjelma sunyi. Kunang-Kunang Jantan tua itu memasang mata. Alis saling mentaut, kedua matanya sedikit menyipit. Kebingungan merayap di wajahnya. Ini kali pertama dia memerhatikan gerakku. Menunjuk satu persatu bulir embun yang melekat pada daun.

“Apa yang Mbak lakukan?”

“Aku sedang mengucapkan selamat pagi pada embun-embun ini.”

“Tapi, Mbak tampak menghitungnya.”

Kunang-Kunang Jantan tua itu masih setia menatap. Tak kutanggapi dia. Biarlah tanya dalam kepalanya mencecar. Aku memusatkan perhatian pada daun-daun itu. Mengarahkan telunjuk,menghitung berapa banyak bulir yang tertidur. Kunang-Kunang Jantan tua itu juga terus memperhatikanku. Perlahan dia mencoba belajar mengikuti jejakku, menggerak bibir merapal satu-dua. Sekali-kali dia mencuri melirikku.

“Ada apa, Pak?”

“Mencoba mengikuti apa yang Mbak lakukan.”

“Apakah ini semacam permainan menurut Bapak?”

“Sepertinya, iya.” Dia tersenyum,tampak senang.

“Tapi, ini bukan permainan.”

Dia enggan menyahut. Telunjuknya terus menari. Aku tersenyum melihatnya.

“Tunggu!”

“Ada apa?” aku mengerutkan dahi.

“Mbak, coba perhatikan ulat ini. Ia tampak kehausan.” Aku berjengket.

“Sebentar, aku akan mengambil sesuatu.”

“Untuk apa?”

“Untuk melenyapkan daun itu.”

“Sebaiknya jangan.”

“Kenapa, Pak? Toh, ia bisanya hanya merusak.”

“Apa setiap pagi, Mbak selalu menghitung bulir embun itu?” nada suaranya sedikit menurun.

“Ya.”

“Setelah itu?”

“Aku hanya ingin tahu ada berapa banyak embun yang tertidur pulas di atas daun-daun itu. Tapi, bagaimana mungkin akubisa tahu jika setiap hari aku tak mampu menghitungnya dengan sempurna,” ucapkusedikit kesal.

“Tapi, apa untungnya pekerjaan itu dilakukan?”

“Kekasihku berkata, bahwa semakin sedikit embun yang tertidur pada daun, maka sebentar lagi orang yang dicintai akan kembali hadir.”

Kunang-Kunang Jantan tua itu hanya mengangguk. Seolah paham dengan jawabanku.

“Kalau begitu, Mbak menjelma embun saja.”

“Lalu?” aku mengernyitkan dahi.

Kunang-Kunang Jantan tua itu berdiri di depanku, menampilkan sepotong senyum. “Ya, agar Mbak bisa tahu di hari ke berapa pertemuan itu akan terjadi.”

“Tapi, aku cukup keberatan menjadi embun, Pak.”

“Karena?”

“Aku tidak ingin jika orang yang kucintai harus menyiapkan paginya hanya untuk terus menatapku.”

“Tapi, rindu akan terkikis dengan hadirnya surat itu,” aku mengikuti jari telunjuknya. Dia menunjuk surat yang terletak lemah di meja.

***

“Sepertinya, ini kali terakhir kita menyapa.”

“Kenapa? Kau ingin ke mana?”

“Jangan khawatir seperti itu. Kita akan kembali bertemu.” Kunang-Kunang Jantan itu tertawa kecil. Dia kemudian mencium tanganku tepat di depan senja yang memburam.

“Danias, berapa lama kau pergi?”

“Aku akan pergi sekarang.”

Kunang-Kunang Jantan itu melepas genggaman tanganku.Aku mendelik. Pertanyaan yang kuajukan tak terjawab. Kekasihku justru memilih melenyapkan dirinya dalam pandanganku. Sedang, aku hanya bisa menguatkan kaki untuk menopang tubuh. Berusaha berdiri walau rapuh.

Dengan aroma senja yang memburam. Aku masih tegap berdiri, melontarkan pandangan ke depan. Aku ingat, tak ada kata yang terlontar saat dia melangkah. Aku hanya memandangi punggungnya hingga menjauh. Sendiri adalah karib yang setia menemani. Di tempat inilah perpisahan itu terangkai.

Angin menghembus mencuri celah memercik kenangan. Bagai lagu penggilas duka. Di depan senja inilah aku memintal hari. Menjelma Kunang-Kunang sunyi yang penanti senyum kekasihnya yang lesap.

“Beberapa orang suka berdiri lama-lama di tempat ini,” Seekor Kunang-Kunang Jantan terbang menghampiriku. Dia memamerkan senyum ramah.

“Di sinilah aku menemukan kenangankuyang hilang kembali merentang.” Aku menatapnya, sambil membalas senyumnya. “Kausuka tempat ini?” tanyaku kemudian. Dia mengangguk.

“Pantai adalah tempat untuk memantikkenangan yang sempat terkubur.” Kunang-Kunang Jantanitumenyilangkan tangan, pandangan matanya merayap, mengikuti langkah ombak yangmenggulung.

“Seperti itulah.”

Aku diam sejenak. Kami sama-samamenatap ke depan. “Hmm... Siapa namamu?” aku kembali menatapnya.

“Kau bisa memanggilku Zhen,” ujarKunang-Kunang Jantan itu.Kami sama-sama tersenyum. Di pantai ini, aku mengenal Kunang-Kunang Jantan itubernama Zehn. Danias dan Zehn, keduanya kutemui di tempat ini.

***

Sudah beberapa hari, Kunang-Kunang Jantan tua itu tidak hadir membawakiriman suratku. Aku mulai letih duduk berlama-lama di dekat jendela, hanyauntuk menunggu Kunang-Kunang Jantantua itu membawa surat kekasihku. Jika bukan karena surat itu, aku tak inginmenahan kantuk. Hanya Kunang-Kunang Jantan tua itulahtempatku mengais kabar kekasihku.

Kembali aku berdiri di balik jendela.Pandangan mata setia kuarahkan ke teras. Mengawasi tubuh tua itu tiba. Seekor Kunang-Kunang Jantanterbang pelan. Dalam tangannya aku menemukan segenggam buket mawar, amplopputih tersemat. Kunang-Kunang Jantanitu kemudian meletakkan kiriman itu tepat di atas anak tangga, kemudiankembali. Aku segera membuka pintu.

“Tunggu sebentar!” teriakku, berlarikecil. Kunang-Kunang Jantanitu mengulum langkah. Dia tidak menoleh.

“Kenapa Bapak menyisipkan surat itu?”dia terdiam. Aku terbang mendekatinya.Mencuri pandang untuk menangkap wajahnya.

“Kamu...” Tunjukku.

“Ya, bagaimana kabarmu?” sapanya.

“Baik. Ke mana Pak Tua itu?”

“Dia telah pergi,” Kunang-Kunang Jantan itumenyahut.

“Pergi? Ke mana?”

“Dia telah meninggal 3 hari yang lalu.”

“Apa, meninggal? Jangan bercanda,” katakutertawa kecil.

“Aku bisa mengantarmu ke makamnya.”

“Aku turut berduka cita.” Aku menunduk.

“Lalu, kamu?” lanjutku sembari menunjuktepat di depan dadanya.

“Aku bertugas untuk menggantikannya.”Dia memperbaiki letak topinya. Lantas, tersenyum.

Dia mengambil buket mawar lalumenyerahkan kepadaku, “Ini untukmu.”

“Mawar? Dari siapa?”

“Aku tidak tahu,” diamenggeleng.

“Ini kali pertama aku menerima sebuketmawar hitam. Terima kasih.”

***

Senja merebah di atas laut bersamakenanganku yang meluruh. Sisa-sisa bayangan wajahnya masih lekat terasa. Adaangin yang memantiknya. Mengendus bisikan rindu. Melukis remah senyumnya yanghampir lenyap. Ini sudah memasuki tahun pertama kekasihku pergi. Juga, telah genap setahunkuhabiskan waktu sore menatap senja di pantai ini.

“Hai, Elmira. Sepertinya kitaberjodoh.”

Kunang-Kunang Jantanitu menghampiriku.Dia kembali menyapaku.

“Zehn,” akumelihat matanya dan menemukan senyuman teduhnya.

“Sepertinya pantai ini begitu berartibuatmu, Elmira. Coba lihat itu!” tunjuknya.Dia kemudian menarik kursi untuk duduk di depanku. Angin menderu. Beberapapotong rambutku mengibas kemudian aku menyembunyikannya di balik telinga.

“Kau tahu nama lampu itu?” aku mengangkat bahu, menggeleng.

“Lampu killok-killok[1], itu namanya. Ketikalangit mulai mengecup malam, lampu itu akan bersinar secara bersamaan.”

“Killok-killok? Nama yang aneh, kurasa,” aku membuang pandang. Tersenyum tipis.

“Coba perhatikan! Lihatlah, ia begitu lincah memainkan cahayanya,” Kunang-Kunang Jantan itu tertawa.

“Selain pantai Seruni ini, Bantaeng juga memiliki pantai Marina. Pantai itu menghadap Laut Flores. Kau bisa bercerita bersama ombaknya,”Dia membuang pandangannya jauh ke depan.

“Di sini banyak bunga mawar. Apa kau mencintai tanaman itu?” kataku seraya menatap beberapa meja di ruangan ini.

“Kurang lebih begitu.”

Kunang-Kunang Jantan itu memanggil waitress dan membisikkan sesuatu. Waitress itu mengangguk. Aku mengerutkan dahi, dan dia hanya tersenyum kepadaku.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanyaku sedikit ingin tahu.

“Hanya sebuah rahasia.” Lagi-lagi dia menjawab pertanyaanku dengan tersenyum. Aku menopang dagu, menikmati setiap inci senyumnya yang selalu menggoda.

“Mengapa menatapku seperti itu?” dia melayangkan tangannya di depan wajahku.

“Kau mengingatkanku pada seseorang,” ucapku tanpa melepas menatap matanya.

“Siapa?”

“Kau dan kekasihku. Tapi, lupakanlah.”

Aku tersenyum melihat dia menyerutkan alis. Sesekali kami berdua melepas tawa. Beberapa saat kemudian, waitress itu datang membawa sebuket mawar. Kunang-Kunang Jantan itumengangguk lalu mengucapkan terima kasih.

“Ini buatmu.”

Dia menyodorkan buket itu kepadaku. Menatap matanya seperti aku menatap mata kekasihku. Aku ingat ketika aku menatap wajahke kasihku, seringkali aku menemukan mataku berbinar menatapnya.

“Mengapa kau suka memberiku mawar hitam, bukannya mawar merah atau putih?”

“Keberanian dan kekuatan merupakan makna umum buat mawar hitam. Ia juga dikenal dengan simbol sebuah perpisahan,” diamenatapku lekat.

“Simbol sebuah perpisahan,” aku mengulang kalimat itu.

“Mengapa? Tapi, itu bukanlah satu-satunya makna yang melekat pada bunga itu.” Senyumnya. Kunang-Kunang Jantan itu belum menatapku. Dia cukup senang mengamati senja yang beringsut dari pantai.

“Apakah kau juga akan mengakhiri perkenalan kita di pantai ini?” aku mencoba menatap matanya, mencari jawaban.

“Kalau begitu biarkan aku yang memulai perpisahan itu.”

“Jangan, Elmira! Bukan, bukan seperti itu maksudku.” Dia menarik tanganku untuk menahan langkahku.

“Lepaskan, Zehn!” aku menepis tangannya.

“Aku mencintaimu, Elmira!” katanya keras. Semua kunang-kunang yang beradadi tempat itu memasang mata menatap ke arah kami.

“Aku mengenalmu dari ayahku. Katanya,kau adalah gadis yang selalu menyiakan waktu pagi hanya untuk menghitung bulir-bulir embun di daun. Setiap minggu setelah pulang dari mengantar suratmu, ayahku selalu bercerita mengenai dirimu, Elmira.”

Tak ada kalimat yang mampu kusulam untuk menimpali perkataan Kunang-Kunang Jantan itu.Aku mematung. Dia makin mengeratkan genggaman tangannya.

“Tap ... tapi..” Aku terbata. Aku menemukan sebuah ketulusan terpancar dari matanya.

“Mengapa, Elmira? Apakah kau masihsetia menunggu kekasihmu?”

“Aku tidak mau perpisahan kedua terjadidi pantai ini, Zehn,” aku menggeleng lemah.

“Kau takut? Tidak selamanya perpisahan itu akan terjadi dua kali di tempat ini.”

“Biarkan aku pergi, Zehn.” Aku kemudian mengepakkan sayap dan terbang.

Ditulis oleh : Khaeriyah Nasruddin
Disqus Comments